SUMENEP, Newsline.id — Semangat gotong royong warga Dusun Kaladi, Desa Pancor, Kecamatan Gayam, Kabupaten Sumenep, kembali terlihat melalui pembangunan jalan desa secara swadaya. Hingga awal Februari 2026, progres pengecoran jalan sepanjang 2.047 meter itu telah mencapai sekitar 50 persen.
Jalan tersebut menjadi akses vital bagi aktivitas warga, mulai dari jalur menuju sekolah, pasar, hingga fasilitas pelayanan umum lainnya. Selama kurang lebih 13 tahun, kondisi jalan itu disebut warga tak pernah tersentuh perbaikan signifikan, hingga akhirnya masyarakat berinisiatif membangunnya secara mandiri.
Dari keterangan warga setempat, proses pembangunan dilakukan sepenuhnya dengan dana swadaya yang dihimpun dari masyarakat. Total anggaran yang berhasil dikumpulkan diperkirakan mencapai Rp200 juta dan digunakan untuk kebutuhan material serta pengecoran jalan.
Namun di tengah proses pengerjaan, sejumlah warga menilai belum ada keterlibatan langsung dari Pemerintah Desa Pancor. Mereka menyebut hampir seluruh pekerjaan dilakukan murni oleh warga, tanpa kehadiran perangkat desa di lokasi.
“Selama pengerjaan tidak ada perangkat desa yang datang. Kadus Kaladi sempat datang sebentar minggu kemarin, setelah itu tidak pernah lagi,” ujar salah satu warga Dusun Kaladi.
Menanggapi hal tersebut, Kepala Desa Pancor, Hainur Rahman, menilai kegiatan swadaya masyarakat sebagai hal positif yang patut diapresiasi. Menurutnya, inisiatif warga menunjukkan bahwa nilai gotong royong masih hidup di tengah masyarakat desa.
“Kegiatan swadaya masyarakat ini sangat bagus. Ini menunjukkan partisipasi warga dan semangat gotong royong masih kuat,” kata Hainur Rahman, Sabtu (7/2/2026).
Ia menjelaskan, pembangunan infrastruktur melalui swadaya bukan hal yang asing, terutama untuk kegiatan yang belum terakomodasi oleh bantuan pemerintah pusat maupun karena keterbatasan anggaran desa.
“Perbaikan jalan dengan swadaya itu lumrah dilakukan, apalagi untuk pembangunan yang tidak ter-cover dana bantuan pusat,” ujarnya.
Terkait pemerataan pembangunan, Hainur Rahman menegaskan bahwa Desa Pancor memiliki sekitar 10 dusun yang setiap tahunnya mendapat alokasi bantuan secara bergiliran. Ia menyebut Dusun Kaladi termasuk wilayah yang rutin mendapatkan perhatian pemerintah desa.
“Di Desa Pancor ada sekitar 10 dusun. Bantuan itu digilir setiap tahun. Untuk Dusun Kaladi, setiap tahun tetap dapat bantuan, bahkan lebih banyak dibanding dusun lain,” tegasnya.
Sementara itu, warga Kaladi berharap pembangunan jalan secara swadaya ini tidak berhenti sebagai inisiatif masyarakat semata, melainkan menjadi perhatian serius pemerintah desa ke depan. Mereka menginginkan pemerataan pembangunan infrastruktur yang lebih adil, terbuka, dan transparan di seluruh dusun.
Hingga kini, proses pengecoran jalan masih terus berlanjut dengan melibatkan warga secara gotong royong, meski tanpa dukungan anggaran resmi dari pemerintah desa.
Penulis : Fwd
Editor : MTAB








