Oleh: Moch Thoriqil Akmal B, S.H
OPINI, Newsline.id – Ada orang yang takut dompetnya kosong. Ada yang panik kalau saldo rekening tinggal angka receh. Ada juga yang setiap malam menghitung cicilan sambil berharap besok dunia tiba-tiba kiamat agar tagihan ikut lenyap. Tapi sesungguhnya, ada ketakutan yang lebih sunyi dan lebih mengerikan dari semua itu: hidup yang jalan di tempat.
Uang habis masih bisa dicari. Motor bisa digadai lalu ditebus lagi. Rumah bisa dicicil. Bahkan mie instan pun masih bisa dibagi dua agar cukup sampai akhir bulan. Tapi hidup yang tidak berubah? Itu seperti terjebak dalam lorong panjang tanpa pintu keluar. Bangun pagi, kerja, mengeluh, tidur, lalu mengulang lagi seperti mesin fotokopi rusak.
Kita hidup di zaman yang aneh. Orang miskin dipaksa terlihat bahagia. Orang lelah dipaksa produktif. Orang gagal dipaksa tersenyum demi konten motivasi. Semua berlomba terlihat sukses, padahal banyak yang sebenarnya cuma pandai menyembunyikan putus asa.
Lucunya, masyarakat sekarang lebih takut kehilangan gaya hidup daripada kehilangan arah hidup. Gaji pas-pasan, tapi nongkrong harus estetik. Isi dompet tinggal seribu, tapi kopi harus tetap difoto. Utang bertumpuk, tapi feed Instagram harus terlihat “healing”. Kita sedang hidup di era di mana pencitraan lebih penting daripada kenyataan.
Dan yang paling menyedihkan, banyak orang akhirnya terbiasa hidup tanpa perubahan. Mereka berdamai dengan keadaan bukan karena ikhlas, tapi karena terlalu capek berharap. Mereka berhenti bermimpi karena berkali-kali dibenturkan kenyataan. Akhirnya hidup dijalani sekadar formalitas: bekerja agar tidak lapar, tersenyum agar tidak ditanya, dan bertahan agar tidak dianggap gagal.
Negeri ini juga punya andil besar menciptakan generasi yang takut bermimpi tinggi. Dari kecil kita diajari untuk realistis, bukan kritis. Disuruh cari aman, bukan cari makna. Sekolah melahirkan banyak penghafal, tapi sedikit pemberontak pikiran. Akibatnya, banyak orang tumbuh dewasa dengan tubuh yang hidup, tapi jiwa yang sudah lama menyerah.
Lebih ironis lagi, perubahan sering dianggap ancaman. Orang yang mencoba berbeda dicurigai. Orang yang melawan dianggap tidak tahu diri. Orang yang jujur justru dijauhi karena mengganggu kenyamanan kebohongan bersama. Maka jangan heran kalau banyak orang akhirnya memilih diam. Di negeri yang terlalu ramah pada kemunafikan, keberanian memang terasa seperti dosa.
Padahal hidup bukan soal seberapa lama kita bertahan, tapi seberapa jauh kita bertumbuh. Sebab ada orang yang usianya bertambah tiap tahun, tapi pikirannya tetap sempit seperti gang buntu. Ada yang hartanya naik, tapi keberaniannya tetap miskin. Ada yang jabatan makin tinggi, tapi moralnya justru makin pendek.
Yang paling tragis bukan orang miskin. Yang paling tragis adalah orang yang kehilangan harapan lalu menganggap itu kedewasaan.
Kita sering mengira perubahan selalu soal uang. Padahal tidak. Banyak orang kaya yang hidupnya tetap kosong. Rumahnya besar, tapi hatinya sempit. Mobilnya mewah, tapi pikirannya parkir di tempat yang sama sejak sepuluh tahun lalu. Sebab perubahan sejati bukan cuma soal isi rekening, tapi soal isi kepala.
Kadang kita terlalu sibuk mengejar penghasilan sampai lupa mengejar perkembangan diri. Padahal manusia tanpa pertumbuhan hanyalah kalender berjalan. Hari berganti, bulan berubah, tapi hidup tetap begitu-begitu saja.
Maka benar, yang paling menakutkan bukan uang habis. Karena uang bisa datang dan pergi. Yang paling mengerikan adalah ketika suatu hari kita bercermin lalu sadar: ternyata selama ini kita tidak ke mana-mana.
Masih menjadi manusia yang sama.
Masih takut pada hal yang sama.
Masih mengeluh tentang masalah yang sama.
Dan masih hidup dalam lingkaran yang sama.
Sementara waktu diam-diam terus mencuri umur kita sedikit demi sedikit.
Dan ketika itu terjadi, mungkin kita akan sadar bahwa kemiskinan paling berbahaya bukanlah kekurangan uang, melainkan kekurangan keberanian untuk berubah.
Penulis : MTAB
Editor : Red








