SUMENEP, Newsline.id – Polemik dugaan ketidakadilan dalam mekanisme pengambilan ijazah di Universitas Bahaudin Mudhary (UNIBA) Madura semakin memanas. Setelah beberapa kali melakukan konfirmasi kepada pihak kampus, aktivis Sumenep, Dayat Mahjong, akhirnya mendesak pendiri UNIBA, Ahsanul Qasasi, untuk turun tangan langsung menyelesaikan persoalan yang dinilai semakin mencoreng citra institusi pendidikan tersebut.
Desakan itu disampaikan setelah redaksi kembali melakukan konfirmasi lanjutan pada Kamis, 11 Juni 2026, di ruang Wakil Rektor I UNIBA. Dalam pertemuan tersebut, redaksi diterima langsung oleh Wakil Rektor I Budi Suswanto bersama tiga dosen UNIBA.
Dalam kesempatan itu, redaksi kembali meminta penjelasan terkait dugaan adanya perlakuan berbeda terhadap mahasiswa dalam proses pengambilan ijazah. Namun, menurut Dayat, keterangan yang disampaikan pihak kampus tidak berbeda dengan pernyataan sebelumnya.
“Kami datang lagi untuk meminta penjelasan yang lebih terang. Tetapi jawaban yang diberikan tetap sama seperti sebelumnya. Tidak ada penjelasan baru yang menjawab substansi persoalan yang kami pertanyakan,” ujar Dayat.
Menurutnya, sejak awal yang menjadi sorotan publik bukan sekadar persoalan administrasi pengambilan ijazah, melainkan dugaan adanya ketidakadilan dalam penerapan aturan yang diduga melibatkan kebijakan pimpinan kampus.
Karena itu, dalam pertemuan tersebut redaksi secara tegas meminta agar persoalan tersebut segera disampaikan kepada Rektor UNIBA, Rachmad Hidayat, agar dapat memberikan klarifikasi langsung kepada publik.
“Yang menjadi sorotan hari ini adalah dugaan ketidakadilan terhadap mahasiswa. Kami meminta agar persoalan ini segera disampaikan kepada Rektor karena publik membutuhkan penjelasan langsung dari pihak yang memiliki kewenangan tertinggi di kampus,” tegasnya.
Dayat menilai sikap kampus yang terus memberikan jawaban normatif tanpa menjawab bukti-bukti yang telah ditunjukkan justru menimbulkan kesan tidak adanya itikad baik untuk menyelesaikan persoalan secara terbuka.
“Saya menyimpulkan tidak ada itikad baik untuk mengklarifikasi persoalan ini secara tuntas. Padahal kami sudah menunjukkan bukti dan bahkan memutar rekaman yang relevan dengan persoalan yang dipersoalkan mahasiswa,” katanya.
Ia juga menyoroti posisi Wakil Rektor I yang dinilai hanya menyampaikan jawaban administratif tanpa berani memberikan penjelasan lebih jauh mengenai substansi persoalan yang berkembang.
“Kalau memang Wakil Rektor I sebagai bawahan rektor merasa tidak memiliki kewenangan atau takut menyampaikan persoalan sesuai fakta yang kami tunjukkan, maka seharusnya rektor sendiri yang hadir memberikan penjelasan kepada publik,” ujar Dayat.
Lebih lanjut, Dayat mengaku heran karena selama empat hari melakukan upaya konfirmasi ke kampus, pihaknya tidak pernah berhasil menemui Rektor UNIBA secara langsung.
“Tujuan kami datang ke kampus sebenarnya sederhana, ingin bertemu langsung dengan Rektor. Namun selama empat hari berjalan kami tidak pernah berhasil bertemu. Padahal persoalan ini terus menjadi perbincangan publik dan membutuhkan penjelasan resmi dari beliau,” katanya.
Menurut Dayat, apabila polemik tersebut terus dibiarkan tanpa klarifikasi yang jelas, dampaknya bukan hanya kepada mahasiswa yang merasa dirugikan, tetapi juga terhadap reputasi UNIBA sebagai lembaga pendidikan tinggi.
“Kalau kasus ini terus dibiarkan berlarut-larut tanpa penjelasan yang terbuka, citra UNIBA akan semakin buruk di mata masyarakat. Kampus harusnya menjadi contoh dalam menegakkan keadilan dan transparansi, bukan justru menimbulkan tanda tanya di kalangan publik,” ujarnya.
Karena itu, pihaknya berencana membawa persoalan tersebut ke tingkat yayasan apabila dalam waktu dekat tidak ada respons langsung dari pimpinan universitas.
“Langkah terakhir yang akan kami tempuh adalah menyampaikan persoalan ini kepada yayasan, khususnya kepada Bapak Ahsanul Qasasi selaku pendiri UNIBA. Kami berharap beliau turun tangan agar persoalan ini dapat diselesaikan secara objektif dan transparan,” tegas Dayat.
Ia menilai keterlibatan pendiri kampus menjadi penting mengingat polemik yang berkembang telah menyita perhatian publik dan berpotensi menurunkan kepercayaan masyarakat terhadap institusi pendidikan tersebut.
Sementara itu, hingga berita ini diterbitkan, Rektor UNIBA Madura, Rachmad Hidayat, masih belum memberikan keterangan resmi terkait dugaan ketidakadilan yang dipersoalkan sejumlah pihak. Redaksi akan terus berupaya memperoleh konfirmasi guna menjaga prinsip keberimbangan informasi dan memberikan ruang hak jawab kepada seluruh pihak yang terkait.
Penulis : AL
Editor : MTAB
Sumber Berita: Newsline.id








