SUMENEP, Newsline.id – Polemik dugaan ketidakadilan dalam mekanisme pengambilan ijazah di Universitas Bahaudin Mudhary (UNIBA) Madura terus bergulir. Setelah sebelumnya menjadi sorotan publik dan memicu berbagai spekulasi, Dedy Wahyudi, mahasiswa yang namanya disebut dalam polemik tersebut, akhirnya buka suara.
Dedy selama ini disebut sebagai mahasiswa yang memperoleh kemudahan dalam proses pengambilan ijazah meski masih memiliki kewajiban administrasi kepada kampus. Isu tersebut mencuat setelah muncul perbandingan dengan mahasiswa lain yang dikabarkan tidak dapat mengambil ijazah karena alasan serupa.
Saat dimintai keterangan, Dedy mengakui bahwa sejumlah informasi yang beredar mengenai proses pengambilan ijazah tersebut memang terjadi sebagaimana yang diketahuinya.
“Menurut saya, beberapa hal yang selama ini diberitakan memang terjadi. Saya memang bisa mengambil ijazah saat itu,” ujar Dedy saat memberikan keterangan kepada Newsline.id.
Pernyataan tersebut sontak menambah perhatian publik terhadap polemik yang telah berlangsung dalam beberapa pekan terakhir. Pasalnya, inti persoalan yang diperdebatkan bukan sekadar pengambilan ijazah, melainkan dugaan adanya perlakuan berbeda terhadap mahasiswa dalam penerapan aturan kampus.
Dedy Wahyudi juga mengaku menerima telepon dari rektor setelah pemberitaan awal mengenai polemik pengambilan ijazah terbit.
Menurut Dedy, dalam komunikasi tersebut dirinya diminta untuk sementara mengembalikan ijazah yang telah diterimanya. Ia menduga langkah tersebut dilakukan untuk meredam polemik yang sedang berkembang di ruang publik.
“Setelah berita pertama muncul, saya dihubungi dan diminta membawa kembali ijazah itu. Menurut pemahaman saya, hal itu agar publik tidak curiga,” ujar Dedy.
Dedy juga mengklaim pernah diberikan dokumen yang menunjukkan seolah-olah kewajiban administrasinya kepada kampus telah diselesaikan. Ia menyebut dokumen tersebut menjadi bagian dari upaya untuk menjelaskan status administrasinya kepada publik.
“Saya menerima dokumen pelunasan tersebut, padahal menurut saya saya belum melakukan pembayaran sebagaimana tercantum dalam dokumen itu,” kata Dedy.
Meski demikian, klaim yang disampaikan Dedy tersebut belum dapat diverifikasi secara independen. Hingga berita ini diterbitkan, pihak rektorat UNIBA belum memberikan tanggapan resmi terkait pernyataan tersebut.
Aktivis Sumenep, Dayat Mahjong, sebelumnya meminta pihak rektorat memberikan klarifikasi terbuka atas berbagai informasi yang berkembang. Menurutnya, transparansi diperlukan untuk menjaga kepercayaan publik terhadap lembaga pendidikan tinggi.
“Perguruan tinggi harus menjadi contoh dalam penerapan prinsip keadilan dan akuntabilitas. Karena itu seluruh informasi yang berkembang perlu dijelaskan secara terang kepada publik,” kata Dayat.
Hingga berita ini diterbitkan, pihak Rektor UNIBA Madura belum memberikan tanggapan resmi terkait pernyataan Dedy Wahyudi maupun berbagai dugaan yang berkembang dalam polemik tersebut.
Redaksi tetap membuka ruang hak jawab dan klarifikasi kepada seluruh pihak terkait guna menjaga keberimbangan informasi sesuai Undang-Undang Pers dan Kode Etik Jurnalistik.
Penulis : AL
Editor : MTAB
Sumber Berita: Newsline.id







