SUMENEP, Newsline.id – Dunia maya Sumenep kembali diramaikan oleh tudingan liar dari akun anonim TikTok bernama TEMPUH Madura (@maduraviraal). Akun ini membuat klaim kontroversial bahwa seorang aktivis muda bernama Fauzi AS menerima uang Rp100 juta dari skema pengondisian program Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS) tahun 2024. Ironisnya, tudingan itu dilontarkan tanpa bukti, tanpa data, tanpa kejelasan identitas.
Narasi tersebut disampaikan dengan gaya nyinyir khas buzzer murahan. Dalam unggahan videonya, akun tersebut menyebutkan sosok “si Gondrong” yang aktivis, kurus, dan bukan anggota DPR, deskripsi yang secara tidak langsung mengarah kepada Fauzi AS, tokoh muda yang selama ini dikenal vokal mengkritisi sistem dan kekuasaan.
Saat dikonfirmasi media ini, Fauzi AS merespons tudingan itu dengan sikap tenang namun tajam.
“Saya hanya bisa bicara dengan manusia, bukan dengan akun anonim yang bahkan takut melihat wajahnya sendiri di cermin,” kata Fauzi
Ia menambahkan, jika benar ada bukti soal tudingan tersebut, seharusnya disertakan secara terbuka.
“Jangan cuma berani menyembur dari balik akun palsu. Kalau memang saya terima uang, tunjukkan bukti transfernya, atau minimal identitas penuduhnya. Ini tuduhan sembrono,” tegasnya.
Fauzi AS bukan nama baru dalam gerakan pemuda di Sumenep. Ia dikenal sebagai suara yang konsisten berada di barisan rakyat kecil. Ia tak jarang bersuara lantang dalam forum-forum publik, mempersoalkan ketimpangan sosial, serta dugaan penyimpangan program-program pemerintahan.
Tak heran jika sikap kritisnya tersebut membuat beberapa pihak merasa terganggu. Beberapa netizen meyakini, tudingan dari akun @maduraviraal merupakan bentuk serangan balik dari pihak-pihak yang merasa kepentingannya terusik.
“Ini bukan tuduhan biasa. Tapi manuver picik yang menyasar karakter dan reputasi,” ujar Dayat, seorang aktivis lokal.
Fenomena akun anonim yang menyebar tudingan tanpa dasar mulai menjadi pola baru dalam dinamika politik lokal. Mereka memanfaatkan media sosial untuk membentuk persepsi publik dengan narasi penuh insinuasi. Tak heran, akun @maduraviraal mulai disebut warga sebagai “akun tuyul” – muncul saat malam, bersembunyi saat terang.
“Mereka ingin tampil seperti whistleblower, padahal cuma ghostblower,” Kata Dayat
Tak sedikit pula yang menyebut pola seperti ini sebagai bentuk character assassination terhadap tokoh-tokoh muda yang masih berani berbicara jujur di tengah atmosfer politik penuh kompromi.
“Ini modus klasik, fitnah dulu, klarifikasi belakangan. Mereka berharap nama baik orang hancur duluan,” Ujar Dayat
Fauzi AS sendiri menegaskan bahwa ia tidak akan gentar menghadapi serangan seperti ini.
“Kalau 100 juta itu harga dari kejujuran, saya sudah lama ‘terjual’. Tapi nyatanya saya masih di sini, masih bersuara,” katanya sambil tertawa.
Ia menyindir, mereka yang menyebar fitnah seperti itu mungkin hanya kehabisan konten atau sedang mencari panggung.
“Kalau mereka anggap saya bisa dibeli, silakan saja buktikan. Tapi saya bukan nasi kotak proyek, yang bisa dipesan siapa saja,” tambahnya.
Meski diterpa fitnah, Fauzi AS memilih untuk terus melangkah. Ia mengaku sudah terbiasa menjadi sasaran ketika menolak tunduk pada kekuasaan.
“Kalau hidup cuma untuk disukai, saya tidak akan pernah memulai gerakan. Tapi saya ingin jadi bagian dari sejarah perlawanan terhadap kebungkaman,” ucapnya.
Di tengah dunia yang dipenuhi akun anonim dan suara-suara gelap, barangkali sosok seperti Fauzi AS menjadi pembeda bahwa masih ada yang memilih jalan terjal demi prinsip dan keberanian berkata jujur.
Karena sejatinya, sejarah memang dibangun dari batu-batu yang dilemparkan oleh mereka yang takut perubahan.








