Rokok Ilegal H. Mukmin Merajalela: Bea Cukai Diam Seribu Bahasa

Saturday, 5 July 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto: Rokok Ilegal yang diduga milik H. Mukmin Ganding Sumenep

Foto: Rokok Ilegal yang diduga milik H. Mukmin Ganding Sumenep

SUMENEP, Newsline.id – Nama H. Mukmin bukanlah nama asing dalam pusaran bisnis rokok ilegal di Madura. Bahkan sudah menjadi rahasia umum bahwa pria ini menjadi salah satu “raja kecil” dalam industri rokok tanpa cukai yang beredar bebas di pasaran. Merek-merek seperti EXO, Dubai, Fantastic, hingga Gico diproduksi dan didistribusikan secara masif, tanpa hambatan berarti dari aparat penegak hukum. Yang mencengangkan, hingga hari ini, pihak Bea Cukai belum pernah secara tegas melakukan penindakan serius terhadap aktivitas ilegal tersebut.

Sejumlah kalangan menilai, pembiaran ini tak bisa dilepaskan dari dugaan adanya perlindungan oknum pejabat, baik di tingkat lokal maupun nasional.

“Kalau rakyat kecil jual rokok tanpa cukai satu slop saja, langsung disergap. Tapi kalau yang main pabrik besar seperti H. Mukmin, justru dibiarkan. Ini negara hukum atau negara pesanan?” ujar Dayat, seorang Anggota YLBH Madura

Di lapangan, aktivitas produksi rokok ilegal di gudang-gudang milik H. Mukmin terus berlangsung, bahkan terang-terangan. Truk-truk pengangkut keluar-masuk membawa kardus-kardus berisi rokok tanpa pita cukai. Distribusi dilakukan secara sistematis dan terorganisir, menjangkau hingga luar pulau Madura.

Baca Juga  PKDI Sumenep: Komitmen Bangun Desa Lewat Kolaborasi

Ironisnya, pihak Bea Cukai tampak tak berdaya menghadapi fenomena ini. Tak ada penutupan, tak ada penyegelan. Kalaupun ada penindakan, biasanya hanya menyasar pengecer atau pengedar kecil, bukan produsen besar seperti H. Mukmin.

“Ini bukan lagi pembiaran, tapi bentuk ketundukan aparat terhadap mafia rokok ilegal. Apakah Bea Cukai takut? Atau jangan-jangan sudah masuk angin?” ungkap Dayat.

Merek EXO, misalnya, banyak ditemukan beredar di warung-warung tanpa label cukai. Demikian pula Dubai, yang bahkan dikemas dengan desain elegan seperti rokok premium. Sementara Fantastic dan Gico dikenal sebagai rokok murah meriah yang menjadi favorit pelajar dan buruh.

Ini ironi. Negara kehilangan potensi miliaran rupiah dari cukai, tapi produsen justru makin kaya. H. Mukmin bisa membangun pabrik baru, menggaji ratusan buruh, tapi tidak membayar sepeser pun ke negara. Mau sampai kapan ini dibiarkan?” keluh Dayat

Baca Juga  Rokok Ilegal Flash Terus Berkeliaran, Aktivis Nilai Bea Cukai Madura Mandul Ungkap Aktor Besar

Sikap diam Bea Cukai menimbulkan kecurigaan publik. Masyarakat bertanya-tanya: apakah ada uang pelicin yang membuat mata aparat tertutup?

Sementara itu, DPRD Kabupaten Sumenep pun tak bersuara. Para wakil rakyat seakan kehilangan fungsi kontrol terhadap maraknya rokok ilegal. Padahal, dampaknya bukan hanya pada kebocoran pendapatan negara, tetapi juga merusak kesehatan publik dan menciptakan iklim usaha yang tidak sehat.

“Kita menduga kuat, ada kartel yang bermain. Mulai dari produsen, pengatur distribusi, hingga pembeking dari kalangan elite. Kalau tidak, mustahil rokok ilegal bisa hidup seenaknya,” tambah Dayat.

Berita ini bukan sekadar peringatan, tapi seruan terbuka. Kepada Kementerian Keuangan, Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, KPK, dan Presiden Republik Indonesia, inilah saatnya menunjukkan bahwa negara masih punya wibawa.

H. Mukmin dan jaringan rokok ilegalnya bukan hanya melanggar hukum, tapi juga menghina akal sehat bangsa. Jika pembiaran ini terus berlangsung, maka publik berhak menyebut negara ini telah dikendalikan oleh mafia yang tak tersentuh hukum.

Berita Terkait

Eric Hermawan Kunjungi BPK RI, Dorong Pengawasan Keuangan Negara Lebih Akuntabel
Dr. Erliyati Ditunjuk Jadi Plt Direktur RSUD dr. H. Moh. Anwar Sumenep, Mulai Bertugas 21 September
Ajang Adu Prestasi dan Silaturahmi Atlet Voli Rayon Utara, Turnamen Bola Voli Brontak Cup 2026 Rayon 1 Digelar di Desa Bilangan
Polemik PPL Gadu Timur Berlanjut, “Muncul di Administrasi, Hilang di Lapangan”, Aktivis Desak BPS Panggil RF dan Buka Hasil Klarifikasi
MEC 2026 Angkat Tema Keraton Sumenep, Budaya Madura Dikemas Kreatif
Tiga Batang Pohon Dibawa ke Polresta Sumenep, Kasus Lisdes Batang-Batang Daya Masuk Tahap Pendalaman
Dari Urusan Perdagangan ke RSUD, Ketua AWDI Soroti Kompetensi Idham Halil
Kehilangan Sosok Setia di Tribun, Ahsanul Qosasi Beri Penghormatan untuk Mbah Hosen
Berita ini 160 kali dibaca

Berita Terkait

Sunday, 20 September 2026 - 19:42

Eric Hermawan Kunjungi BPK RI, Dorong Pengawasan Keuangan Negara Lebih Akuntabel

Sunday, 20 September 2026 - 18:57

Dr. Erliyati Ditunjuk Jadi Plt Direktur RSUD dr. H. Moh. Anwar Sumenep, Mulai Bertugas 21 September

Sunday, 20 September 2026 - 18:27

Ajang Adu Prestasi dan Silaturahmi Atlet Voli Rayon Utara, Turnamen Bola Voli Brontak Cup 2026 Rayon 1 Digelar di Desa Bilangan

Sunday, 20 September 2026 - 17:01

Polemik PPL Gadu Timur Berlanjut, “Muncul di Administrasi, Hilang di Lapangan”, Aktivis Desak BPS Panggil RF dan Buka Hasil Klarifikasi

Saturday, 19 September 2026 - 21:34

Tiga Batang Pohon Dibawa ke Polresta Sumenep, Kasus Lisdes Batang-Batang Daya Masuk Tahap Pendalaman

Berita Terbaru