Pokmas dan Poktan Beranggaran Besar Disebut ‘Lupa’, Desa Lenteng Timur Disebut Lalai Mengawasi

Thursday, 4 December 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

SUMENEP, Newsline.id — Sejumlah program kegiatan Desa Lenteng Timur, Kecamatan Lenteng, Kabupaten Sumenep, yang didanai melalui berbagai Organisasi Perangkat Daerah (OPD) pada Tahun Anggaran 2024, kini memunculkan tanda tanya besar terkait transparansi dan akuntabilitas pemerintah desa. Pasalnya, pihak desa justru memberikan jawaban yang dinilai tidak bertanggung jawab ketika dikonfirmasi mengenai lokasi kegiatan dan identitas para ketua kelompok penerima anggaran.

Berikut daftar kegiatan dan besaran anggaran yang diterima desa melalui beberapa dinas:

📌 Melalui Dinas Ketenagakerjaan Sumenep TA 2024

Pokmas Soponyono — Rp150 juta

Pokmas Jurungan — Rp100 juta

Pokmas Al-Baik — Rp150 juta

Pokmas Pahlawan — Rp100 juta

Pokmas Kenangan Indah — Rp200 juta

Pokmas Dewi Ratnadi — Rp150 juta

📌 Melalui Dinas Pertanian TA 2024

Poktan Prima Desa — Rp100 juta

Poktan Karomah — Rp100 juta

KWT Kejora — Rp75 juta

📌 Melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) TA 2024

Pokmas Kek Lenteng — Rp170 juta

📌 Melalui Dinas Perikanan TA 2024

Pokdakan Laskar Berkumis — Rp198 juta

Saat media melakukan konfirmasi kepada Kepala Desa Lenteng Timur terkait lokasi kegiatan serta siapa saja ketua kelompok penerima anggaran tersebut, jawaban justru diberikan oleh Sekretaris Desa (Sekdes).

Baca Juga  Kades Bicabbi Tak Muncul, Bantahan via Keluarga Picu Dugaan Program Fiktif

Namun, respons Sekdes membuat publik semakin bingung.

“Tanya ke dinas langsung, Mas. Saya lupa siapa ketua-ketuanya,” jawab Sekdes singkat.

Jawaban itu memantik kritik keras karena dinilai menunjukkan minimnya tanggung jawab pemerintah desa dalam mengawasi alokasi dana yang masuk ke wilayahnya.

Sumber publik menilai sikap tersebut tidak wajar, sebab setiap bantuan pemerintah melalui OPD selalu memiliki mekanisme administrasi yang jelas, mulai dari pengusulan, verifikasi, sampai pelaksanaan.

Aktivis Sumenep, Zainul, menilai jawaban Sekdes menunjukkan kegagalan serius dalam transparansi.

“Bagaimana mungkin desa tidak tahu lokasi kegiatan dan siapa ketua pokmas? Ini bukan dana kecil. Total nominalnya miliaran rupiah. Jawaban ‘lupa’ itu tidak bisa diterima,” tegasnya.

Zainul, juga mempertanyakan mengapa pemerintah desa tidak memegang data pasti terkait nama kelompok, lokasi kegiatan, dan besaran anggaran.

Menurut mereka, pemerintah desa adalah ujung tombak pengawasan di tingkat paling bawah. Jika desa sendiri tidak tahu, maka rawan terjadi tumpang tindih data, kelompok fiktif, kegiatan yang tidak berjalan, atau penyimpangan anggaran.

“Jawaban Sekdes itu jelas masalah. Kalau uang negara miliaran masuk desa, masa perangkat desa bilang lupa? Ini menunjukkan tidak ada kontrol,” ujar Zainul.

Baca Juga  APMS Tunggu Langkah Kejari Sumenep Proses Dugaan Pemalsuan Tanda Tangan Kades Kertasada Oleh Pokmas Setia Budi

Zainul menyatakan bahwa transparansi bukan pilihan, tetapi kewajiban.

“Jika pemerintah desa saja tidak hafal kelompok penerima, wajar bila publik menduga ada sesuatu yang tidak beres. Desa harus membuka data, bukan melempar tanggung jawab ke dinas,” ujarnya.

Dengan tidak adanya data yang jelas di tingkat desa, berbagai dugaan kini bermunculan:

Apakah semua pokmas dan poktan benar-benar ada?

Di dusun mana lokasi kegiatan dilaksanakan?

Apakah dana telah dicairkan dan digunakan sesuai peruntukan?

Apakah ada kelompok yang hanya sekadar nama?

Apakah progres kegiatan bisa dibuktikan di lapangan?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut menuntut jawaban segera, mengingat dana publik harus dapat dipertanggungjawabkan sampai ke tingkat paling bawah.

Sampai berita ini diturunkan, pihak Desa Lenteng Timur belum memberikan penjelasan tambahan terkait lokasi kegiatan maupun identitas ketua kelompok. Publik berharap aparat pengawas anggaran dan OPD terkait segera turun tangan untuk membuka data lengkap demi menghindari dugaan penyimpangan serta memastikan uang negara benar-benar digunakan untuk kepentingan masyarakat.

Penulis : T2

Editor : R IE Q

Berita Terkait

Miliaran Uang Rakyat Mengalir ke Parpol, Faqih Tuding Fungsi Pengawasan Bakesbangpol Sumenep Mandul dan Cuma Jadi Juru Stempel!
Sembilan Prajurit Kodim 0827/Sumenep Dilepas ke Satuan Baru, Kasdim: Terus Jaga Nama Baik TNI AD
Yonif TP 931/KJ Bekali Prajurit Keterampilan Beternak Ayam Petelur untuk Dukung Ketahanan Pangan
Pimpinan Buruk Melahirkan Mahasiswa Buruk, Dari Kasus Ijazah Hingga Pemalsuan Tanda Tangan Pemira UNIBA 
Lansia Asal Lobuk Ditemukan Meninggal di Pinggir Jalan Saat Hendak ke Ladang
Polemik Pengambilan Ijazah Belum Terjawab, Dayat Mahjong Minta Ahsanul Qasasi Selamatkan Nama Baik UNIBA
Pemira UNIBA Madura Berujung Laporan Polisi, Dugaan Tanda Tangan Fiktif Diselidiki Satreskrim
Drs. Kamalil Irsyad Nahkodai PKB Sumenep Periode 2026–2031, Usung Politik Pelayanan dan Kaderisasi Muda
Berita ini 149 kali dibaca

Berita Terkait

Saturday, 13 June 2026 - 10:41

Miliaran Uang Rakyat Mengalir ke Parpol, Faqih Tuding Fungsi Pengawasan Bakesbangpol Sumenep Mandul dan Cuma Jadi Juru Stempel!

Friday, 12 June 2026 - 16:22

Sembilan Prajurit Kodim 0827/Sumenep Dilepas ke Satuan Baru, Kasdim: Terus Jaga Nama Baik TNI AD

Friday, 12 June 2026 - 15:59

Yonif TP 931/KJ Bekali Prajurit Keterampilan Beternak Ayam Petelur untuk Dukung Ketahanan Pangan

Friday, 12 June 2026 - 13:11

Lansia Asal Lobuk Ditemukan Meninggal di Pinggir Jalan Saat Hendak ke Ladang

Friday, 12 June 2026 - 06:15

Polemik Pengambilan Ijazah Belum Terjawab, Dayat Mahjong Minta Ahsanul Qasasi Selamatkan Nama Baik UNIBA

Berita Terbaru

OPINI

Rektor atau Maling Kelas Kakap?

Saturday, 13 Jun 2026 - 00:11

OPINI

Penjahat Bernama Prabowo

Friday, 12 Jun 2026 - 16:59