SUMENEP, Newsline.id – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dijalankan Yayasan Darul Arqom di Desa Lenteng Barat, Kecamatan Lenteng, Kabupaten Sumenep, menjadi sorotan publik. Sejumlah wali murid mengeluhkan kualitas menu yang dinilai tidak sesuai dengan standar gizi yang dicanangkan pemerintah pusat.
Keluhan tersebut mencuat setelah beredarnya unggahan di media sosial yang memperlihatkan menu makanan diduga tidak layak konsumsi. Dalam laporan yang dihimpun awak media di lapangan, salah satu menu berupa donat disebut dalam kondisi keras dan kurang diminati para siswa.
Salah seorang wali murid yang enggan disebutkan namanya mengungkapkan, para orang tua tidak menolak program MBG, namun berharap kualitas menu dapat diperbaiki.
“Ya pak, kami wali murid bersama siswa-siswi mengeluhkan menu MBG ini. Menurut kami, menu yang disajikan tidak sesuai dengan yang dicanangkan pemerintah yang memiliki standar gizi tertentu,” ujarnya.
Ia juga menambahkan bahwa sebagian siswa memilih tidak mengonsumsi makanan yang dibagikan karena rasanya kurang enak dan teksturnya keras.
“Bukannya kami tidak bersyukur dengan adanya program ini. Kami hanya berharap menunya lebih diperhatikan agar benar-benar bergizi dan layak dikonsumsi anak-anak,” tambahnya.
Menanggapi polemik tersebut, aktivis Sumenep, Dedy W, angkat bicara. Ia menyayangkan dugaan rendahnya kualitas menu MBG yang dikelola Yayasan Darul Arqom di Lenteng Barat.
Menurut Dedy, jika benar terdapat ketidaksesuaian antara anggaran dan kualitas makanan yang diterima siswa, maka hal tersebut perlu ditelusuri secara transparan.
“Kami mencium adanya potensi kecurangan. Informasi yang kami terima menyebutkan anggaran per porsi sebesar Rp10 ribu, namun nilai makanan yang diterima diduga hanya sekitar Rp8 ribu. Ini harus diklarifikasi,” tegasnya.
Dedy menilai, dengan besarnya anggaran program MBG yang digelontorkan pemerintah, pengawasan harus diperketat agar tidak terjadi penyimpangan di tingkat pelaksana.
Ia juga menekankan pentingnya transparansi dalam pengelolaan dana, termasuk keterbukaan terkait rantai pasok bahan makanan dan mekanisme distribusi.
“Isu ini muncul di tengah pengawasan ketat terhadap anggaran besar program MBG. Jika benar ada selisih atau pengurangan kualitas, maka ini harus segera diperbaiki. Saya akan mengawal persoalan ini sampai tuntas,” pungkasnya.
Para wali murid berharap pihak yayasan maupun instansi terkait segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kualitas menu MBG.
Mengingat pentingnya asupan gizi bagi tumbuh kembang anak, program tersebut diharapkan tidak hanya berjalan secara administratif, tetapi juga benar-benar memberikan manfaat nyata bagi para siswa.
Sementara itu, hingga berita ini diturunkan, pihak Yayasan Darul Arqom Desa Lenteng Barat belum memberikan keterangan resmi terkait keluhan yang disampaikan wali murid dan aktivis.
Penulis : T2
Editor : MTAB








