Menolak Menjadi Robot: Menggugat Kematian Imajinasi di Menara Gading

Saturday, 16 May 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Moh. Tajul Firdausi

OPINI, Newsline – Kampus hari ini tak ubahnya sebuah pabrik besar yang memproduksi sekrup-sekrup untuk mesin industri. Di lorong-lorong fakultas, kita melihat pemandangan yang  serupa, barisan mahasiswa yang berjalan tergesa menuju kelas, mata yang lekat pada layar gawai demi mengejar tenggat tugas, dan diskusi yang hanya berkutat pada bagaimana mendapatkan nilai bagus di akhir semester. Fenomena ini melahirkan sebuah tren yang mengkhawatirkan, lahirnya robot-robot akademik.

Mahasiswa kini terjebak dalam labirin administratif, mereka tereduksi menjadi sekadar memenuhi daftar hadir, mengumpulkan tumpukan esai yang seringkali hanya hasil dari modifikasi mesin pencari, dan mengejar Indeks Prestasi Kumulatif setinggi langit. Pendidikan tidak lagi dimaknai sebagai upaya pencarian kebenaran atau pengasahan daya kritis, melainkan sebuah kompetisi mekanis untuk memenuhi standar pasar kerja.

Baca Juga  Hari Pertama Misa Pembukaan Konklaf Digelar di Vatikan, Umat Katolik Dunia Menanti Paus Baru

Hilangnya Fitrah “Maha”

Secara etimologis, gelar “Maha” pada kata mahasiswa menunjukkan sebuah level intelektualitas dan tanggung jawab moral yang melampaui siswa biasa. Fitrah mahasiswa sebenarnya adalah menjadi lokomotif perubahan mereka yang memiliki kemewahan waktu untuk berpikir radikal, berimajinasi tanpa batas, dan menggugat ketidakadilan.

Namun, ketika seorang mahasiswa berubah menjadi robot akademik, ia kehilangan kemampuannya untuk berempati dan bereaksi terhadap realitas sosial di sekitarnya. Keresahan intelektualnya dibunuh oleh beban kurikulum yang kaku. Ia pintar secara teknis, namun tumpul secara nurani. Ia hafal teori-teori besar, namun gagap saat harus menerapkannya untuk memecahkan masalah nyata di tengah masyarakat.

Sistem pendidikan yang terlalu menekankan pada aspek administratif seperti laporan kegiatan yang berbelit atau standarisasi tugas yang monoton secara perlahan mematikan api kreativitas. Mahasiswa menjadi takut untuk salah, takut untuk bereksperimen, dan akhirnya memilih jalan aman, menjadi penurut yang patuh pada sistem.

Baca Juga  Antara Sumpah dan Cinta

Padahal, sejarah mencatat bahwa perubahan-perubahan besar di dunia lahir dari mereka yang berani keluar dari jalur akademik yang kaku. Mereka adalah mahasiswa yang tidak hanya duduk diam di perpustakaan, tetapi juga turun ke jalan, berdialog dengan petani, dan berani mengonfrontasi kebijakan yang pincang.

Kampus seharusnya menjadi laboratorium peradaban, bukan sekadar tempat transit menuju dunia kerja.

Mengembalikan fitrah mahasiswa berarti:

Menghidupkan Kembali Budaya Literasi, bukan sekadar membaca untuk ujian, tapi membaca untuk memperluas cakrawala berpikir.

Mempertajam Kepekaan Sosial, Menyadari bahwa setiap gelar yang disandang membawa tanggung jawab sosial yang besar.

Penulis : Red

Editor : MTAB

Berita Terkait

“TEMPO” Berjudi Di Madura
Asset Recovery with Due Process: Menakar Batas Kekuasaan Negara dalam RUU Perampasan Aset
Merdeka di Tiang Bendera
Merdeka di Bendera; Kemerdekaan yang Dirayakan, Keadilan yang Dipertanyakan
Kenapa Perempuan Menyerahkan Tubuhnya?
Sumenep Kepulauan: Mengganti Nama atau Mengganti Nasib?
Negara Tidak Boleh Membiarkan Penilaian Tembakau Hanya Berdasarkan “Insting”
Polresta Sumenep: Pangkat Naik, Pintu Informasi Turun
Berita ini 173 kali dibaca

Berita Terkait

Sunday, 13 September 2026 - 00:08

“TEMPO” Berjudi Di Madura

Sunday, 6 September 2026 - 19:02

Asset Recovery with Due Process: Menakar Batas Kekuasaan Negara dalam RUU Perampasan Aset

Monday, 17 August 2026 - 05:44

Merdeka di Tiang Bendera

Sunday, 16 August 2026 - 22:00

Merdeka di Bendera; Kemerdekaan yang Dirayakan, Keadilan yang Dipertanyakan

Friday, 14 August 2026 - 12:49

Kenapa Perempuan Menyerahkan Tubuhnya?

Berita Terbaru