Menatap Pendidikan Kepulauan: Catatan Kritis dari Beranda KOPRI Komisariat UNIJA

Wednesday, 24 June 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

OPINI, Newsline.id – Tantangan pendidikan di wilayah kepulauan bukan sekadar angka statistik di atas meja birokrat. Bagi kami di KOPRI Komisariat UNIJA, ini adalah realitas kemanusiaan yang menuntut keberpihakan.

Ketika kita bicara tentang keterbatasan akses, minimnya fasilitas, dan ketimpangan rasio guru di kepulauan, kita sedang membicarakan masa depan anak-anak bangsa, terutama anak perempuan dan perempuan muda di wilayah pesisir, yang hak-hak dasarnya sering kali terpinggirkan oleh batas geografis.

Sebagai kader pergerakan, kami melihat problem ini dari tiga kacamata krusial:

1. Kerentanan Ganda Anak Perempuan Kepulauan

Keterbatasan akses transportasi antarpulau dan jarak sekolah yang jauh bukan sekadar hambatan fisik, melainkan ancaman terhadap ruang aman bagi anak perempuan. Ketika akses sekolah sulit dan berbahaya, anak perempuan menjadi kelompok paling rentan yang dipaksa putus sekolah lebih awal. Risikonya jelas: tingginya angka perkawinan anak di bawah umur dan hilangnya kesempatan mereka untuk mandiri secara ekonomi. Bagi KOPRI, pembenahan transportasi laut dan penyediaan fasilitas pendidikan yang dekat adalah mutlak demi mewujudkan ruang aman dan keadilan gender di sektor pendidikan.

Baca Juga  Pak Kapolri, Janjimu Dipalsukan : "Taman Polres di Atas Kuburan Rakyat"

2. Ketimpangan Guru adalah Bentuk Pengabaian Struktural

Sistem yang membiarkan guru-guru menumpuk di daratan utama, sementara sekolah-sekolah di pulau terluar kekurangan pengajar berkualitas, adalah potret nyata dari ketimpangan struktural. Menuntut pengabdian tanpa batas dari guru-guru di kepulauan tanpa dibarengi jaminan kesejahteraan, fasilitas rumah dinas yang layak, dan insentif khusus adalah tindakan yang tidak adil. Negara dan pemerintah daerah tidak boleh menutup mata; redistribusi guru yang adil harus dipaksa melalui kebijakan regulasi yang tegas, bukan sekadar imbauan moral.

3. Memutus “Mitos” Rendahnya Minat Pendidikan Tinggi

Siswa di kepulauan bukannya tidak punya mimpi untuk duduk di bangku kuliah seperti kami di UNIJA. Namun, mimpi mereka sering kali layu sebelum berkembang akibat sistem seleksi yang tidak adil dan beban ekonomi yang mencekik. Bagaimana mungkin siswa yang bersekolah dengan fasilitas minim harus bertarung di jalur seleksi yang sama dengan siswa di kota besar? Ditambah lagi, biaya transportasi dan biaya hidup di daratan menjadi tembok besar bagi keluarga nelayan.

Baca Juga  Negara Tidak Boleh Membiarkan Penilaian Tembakau Hanya Berdasarkan "Insting"

KOPRI UNIJA mendesak adanya perluasan beasiswa afirmasi khusus anak kepulauan yang komprehensif—tidak hanya menanggung UKT, tetapi juga biaya hidup dan akomodasi mereka selama merantau.

Editor : MTAB

Sumber Berita: Newsline.id

Berita Terkait

“TEMPO” Berjudi Di Madura
Asset Recovery with Due Process: Menakar Batas Kekuasaan Negara dalam RUU Perampasan Aset
Merdeka di Tiang Bendera
Merdeka di Bendera; Kemerdekaan yang Dirayakan, Keadilan yang Dipertanyakan
Kenapa Perempuan Menyerahkan Tubuhnya?
Sumenep Kepulauan: Mengganti Nama atau Mengganti Nasib?
Negara Tidak Boleh Membiarkan Penilaian Tembakau Hanya Berdasarkan “Insting”
Polresta Sumenep: Pangkat Naik, Pintu Informasi Turun
Berita ini 20 kali dibaca

Berita Terkait

Sunday, 13 September 2026 - 00:08

“TEMPO” Berjudi Di Madura

Sunday, 6 September 2026 - 19:02

Asset Recovery with Due Process: Menakar Batas Kekuasaan Negara dalam RUU Perampasan Aset

Monday, 17 August 2026 - 05:44

Merdeka di Tiang Bendera

Sunday, 16 August 2026 - 22:00

Merdeka di Bendera; Kemerdekaan yang Dirayakan, Keadilan yang Dipertanyakan

Friday, 14 August 2026 - 12:49

Kenapa Perempuan Menyerahkan Tubuhnya?

Berita Terbaru