SUMENEP, Newsline.id — Drama dugaan skandal mesum Kepala Desa Lapa Taman, Kecamatan Dungkek, Kabupaten Sumenep, kian menjijikkan bagi publik. Di tengah desakan klarifikasi dan tuntutan tanggung jawab moral, sang kepala desa justru memilih jalan klasik pejabat bermasalah: mengelak, berkelit, dan berharap badai reda dengan sendirinya.
Namun kali ini, publik tak lagi sabar. Sejumlah aktivis yang sejak awal mengantongi bukti dugaan perbuatan asusila itu menyatakan sikap tegas. Kesabaran mereka, kata aktivis, sudah di ujung tanduk. Jika Kepala Desa Lapa Taman masih terus bersembunyi di balik bantahan normatif dan sikap bungkam, foto-foto dugaan mesum siap diumbar ke ruang publik tanpa kompromi.
“Cukup sudah sandiwara ini. Jangan anggap masyarakat bodoh. Kami punya bukti visual. Selama ini kami tahan demi etika. Tapi kalau kekuasaan dipakai untuk berlindung, maka publik berhak tahu semuanya,” tegas seorang aktivis dengan nada keras.
Aktivis menyebut, sikap mengelak sang kepala desa bukan hanya mempermalukan institusi pemerintahan desa, tetapi juga melecehkan akal sehat masyarakat. Dugaan perbuatan mesum, apalagi dilakukan oleh pejabat publik, bukan perkara sepele yang bisa disapu dengan kalimat “tidak benar” tanpa klarifikasi terbuka.
“Kalau bersih, buka diri. Kalau kotor, jangan berlindung di balik jabatan,” sindirnya.
Ironisnya, hingga kini tak tampak langkah pembinaan serius dari pemerintah daerah. Camat, bupati, hingga lembaga legislatif seolah kompak memilih posisi aman: menunggu, diam, dan berharap isu ini tenggelam oleh waktu. Padahal, kepala desa bukan warga biasa, melainkan figur yang seharusnya menjadi contoh moral di tengah masyarakat.
Situasi ini makin busuk ketika publik mengaitkan kasus tersebut dengan fakta bahwa orang tua sang kepala desa merupakan anggota DPRD Kabupaten Sumenep dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan. Alih-alih menunjukkan sikap tegas dan bermartabat, yang terlihat justru keheningan yang memekakkan telinga.
“Ini bau konflik kepentingan. Anak bermasalah, orang tua punya kuasa politik, lalu semua memilih diam. Kalau bukan perlindungan, lalu apa?” kecam seorang pengamat politik lokal.
Menurutnya, bungkamnya elite politik dalam kasus ini justru menambah luka kepercayaan publik. PDIP sebagai partai besar dinilai gagal menunjukkan ketegasan moral ketika kasus menyentuh lingkaran internalnya sendiri.
Tokoh masyarakat Kecamatan Dungkek juga tak kalah geram. Mereka menilai, Kepala Desa Lapa Taman telah mencoreng martabat desa dan menciptakan rasa malu kolektif.
“Warga disuruh patuh aturan, jaga moral, tapi pemimpinnya justru diduga berbuat mesum. Lalu kami harus hormat pada siapa?” ujar seorang tokoh dengan nada getir.
Aktivis memastikan ancaman membuka foto dugaan mesum bukan gertakan kosong. Bukti tersebut, kata mereka, disiapkan sebagai bentuk perlawanan terhadap arogansi kekuasaan dan pembiaran sistemik.
“Kalau hukum dan etika tumpul ke atas, maka tekanan publik adalah satu-satunya jalan. Jangan salahkan kami kalau nanti foto itu beredar luas,” katanya.
Hingga berita ini diturunkan, Kepala Desa Desa Lapa Taman masih belum memberikan pernyataan resmi secara terbuka. Pemerintah Kabupaten Kabupaten Sumenep pun tetap senyap, seolah skandal ini bukan persoalan serius.
Kasus ini kini bukan lagi soal dugaan mesum semata. Ini telah berubah menjadi potret telanjang wajah kekuasaan lokal: apakah jabatan digunakan untuk menjaga martabat publik, atau justru menjadi tameng untuk melindungi aib dan kebusukan moral.
Penulis : T2
Editor : R IE Q








