PAMEKASAN, Newsline.id – Pertanyaan besar kembali mencuat di tengah publik Madura: mampukah Bea Cukai benar-benar serius memberantas peredaran rokok ilegal, khususnya merek Tali Jaya yang diduga kuat diproduksi oleh H. Taufiq Hidayat?
Nama Taufiq Hidayat bukan sekadar pengusaha biasa. Ia disebut-sebut masih berstatus Aparatur Sipil Negara (ASN) sekaligus kepala sekolah di salah satu lembaga pendidikan di Kabupaten Sumenep. Ironi mencolok pun terlihat: seorang pendidik yang mestinya menjadi teladan hukum, justru dikaitkan dengan bisnis rokok ilegal yang merugikan keuangan negara.
Produk Tali Jaya, menurut penelusuran warga, beredar bebas di warung-warung kecil maupun jaringan distribusi skala besar di Madura. Meskipun tidak bercukai resmi, rokok ini seakan kebal dari razia. Fakta ini memunculkan dugaan kuat adanya pembiaran, bahkan kemungkinan adanya “permainan mata” antara pengusaha dan aparat.
“Kalau masyarakat biasa jual rokok tanpa cukai, pasti langsung ditindak. Tapi kalau sudah nama besar yang bergerak, hukum seperti lumpuh,” kata Dayat
Bea Cukai kerap menyuarakan komitmennya untuk menindak rokok ilegal, bahkan membuat slogan besar-besaran soal pemberantasan. Namun kenyataan di lapangan justru sebaliknya. Tali Jaya dan merek lain masih beredar tanpa hambatan berarti.
“Publik bertanya, apakah Bea Cukai benar-benar bekerja untuk negara, atau justru melindungi kepentingan segelintir orang?” ujar Dayat.
Dugaan bahwa H. Taufiq Hidayat berstatus ASN dan masih menjabat sebagai kepala sekolah menambah keruh persoalan ini. Bila benar, maka ia melanggar dua aturan sekaligus: Undang-Undang Kepegawaian yang melarang ASN berbisnis ilegal, serta Undang-Undang Cukai yang jelas-jelas mengkriminalisasi produksi dan distribusi rokok tanpa pita resmi.
“Apa jadinya bangsa ini kalau pendidik justru memberi contoh buruk dengan melanggar hukum? Anak didiknya belajar apa?” kritik Dayat
Kebisuan aparat dan kemandulan Bea Cukai dalam menertibkan Tali Jaya membuat publik menaruh curiga ada indikasi permainan uang. Situasi ini semakin memperburuk citra penegakan hukum di Madura, yang selama ini dianggap lemah terhadap praktik rokok ilegal.
“Kalau Bea Cukai mau, tidak butuh sehari untuk menutup pabrik Tali Jaya. Masalahnya, mau atau tidak? Atau jangan-jangan mereka ikut menikmati?” sindir Dayat
Kasus Tali Jaya ini menjadi cermin buram penegakan hukum di sektor cukai. Negara berteriak soal kerugian triliunan akibat rokok ilegal, tapi di lapangan justru pengusaha rokok seperti H. Taufiq Hidayat bisa tetap beroperasi tenang.
Masyarakat kini menunggu: apakah Bea Cukai berani membuktikan komitmennya, atau justru memilih menjadi penonton yang pura-pura buta?








