Kapolri Harus Mundur: Tragedi Affan, Luka Kemanusiaan yang Bisa Menjadi Bola Api

Friday, 29 August 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Fauzi As

Newsline.id – Ada kalimat klasik dari filsuf Yunani, Plato, yang patut kita ingat: “Hukum adalah tatanan akal, bukan nafsu. Bila hukum tunduk pada nafsu, maka ia berhenti menjadi hukum.”

Apa yang baru saja terjadi di Jakarta, ketika seorang anak bangsa bernama Affan Kurniawan (21 tahun) tewas dilindas mobil rantis Brimob, bukan sekadar kecelakaan. Itu adalah pengkhianatan terhadap hukum dan kemanusiaan.

Affan bukan demonstran. Ia bukan provokator. Ia hanyalah seorang pengemudi ojek online yang sedang mencari nafkah, mengantarkan pesanan pelanggan, saat jalanan macet akibat ricuh di sekitar DPR.

Namun hidupnya direnggut begitu saja oleh roda besi negara yang seharusnya melindungi. Detik-detik tubuh mudanya dilindas mobil rantis terekam jelas, viral, dan menorehkan luka mendalam di hati publik.

Luka Kemanusiaan

Bayangkan keluarga Affan, seorang ibu yang kini harus merelakan anaknya pulang hanya sebagai jenazah. Bayangkan ayahnya yang mungkin selama ini menganggap anaknya penopang keluarga, kini hanya bisa menatap nisan.

Kita seakan-akan kembali ke masa kelam, di mana aparat kehilangan nurani dan rakyat kecil jadi korban benturan negara dengan rakyatnya sendiri.

Kapolri tidak bisa lagi sekadar minta maaf, menyebut ini “musibah”. Ini adalah tragedi kemanusiaan yang terjadi di depan mata, dengan wajah institusi kepolisian tercetak jelas sebagai pelaku.

Baca Juga  Refleksi Satu Tahun Kepemimpinan Bupati Sumenep: Banyak Gimik, Minim Dampak Nyata

Dan dalam tragedi seperti ini, pimpinan tertinggi tidak cukup hanya meminta maaf. Pimpinan tertinggi harus berani mengambil tanggung jawab penuh.

Kritik untuk Kapolri

Institusi Polri telah diberi kekuatan luar biasa: senjata, kendaraan tempur, dan legitimasi hukum. Tapi kekuatan itu kerap berubah menjadi mesin tanpa kendali.

Polri bukan lagi sekadar aparat hukum, tapi menjelma industri yang memperdagangkan hukum, yang mengamankan pelanggaran, dan kerap menjadikan rakyat kecil sebagai tumbal.

Dari kasus jual-beli perkara, dari pelanggaran etik, hingga kini seorang pemuda rakyat jelata mati di jalanan semua itu menunjukkan Polri gagal mengendalikan tubuhnya yang kekar.

Kapolri harus berani legowo mundur. Karena kepemimpinan bukan sekadar jabatan, melainkan kehormatan. Dan kehormatan seorang pemimpin diuji justru ketika institusinya menorehkan aib.

Bola Api yang Bisa Membesar

Kasus Affan bisa menjadi bola api. Gelombang massa sudah berkali-kali mewarnai jalanan negeri ini, dari 1998 hingga hari ini.

Satu nyawa rakyat kecil yang melayang di tangan negara bisa menjadi pemantik api yang tidak mudah dipadamkan.

Apalagi di tengah ketidakpuasan publik terhadap berbagai kebijakan, tragedi ini bisa berubah menjadi simbol perlawanan.

Baca Juga  Menolak Menjadi Robot: Menggugat Kematian Imajinasi di Menara Gading

Presiden tidak boleh diam. Ini adalah momentum untuk merevisi hubungan negara dengan kepolisian, bahkan untuk menghidupkan kembali wacana pemindahan Polri ke bawah Kementerian Dalam Negeri.

Selama ini Polri berada langsung di bawah Presiden, tapi bukti demi bukti menunjukkan bahwa kedekatan struktural ini justru menjadikan Polri super power, tanpa kendali efektif, dan seringkali tanpa koreksi.

Harapan untuk Keadilan

Kita menangis bersama keluarga Affan, tapi tangis tidak cukup. Harus ada perubahan. Harus ada keberanian.

Jika hukum adalah pilar negara, maka hukum harus ditegakkan terlebih dahulu atas aparatnya sendiri.

Jika negara ingin dipercaya rakyat, maka Kapolri harus menunjukkan teladan: bukan dengan serangkaian rapat klarifikasi, melainkan dengan sikap mundur secara ksatria.

Bukan karena tekanan, bukan karena kalah, tetapi karena tanggung jawab moral. Inilah satu-satunya cara agar tragedi Affan tidak menjelma menjadi bara yang terus membakar.

Dan biarlah kata-kata Plato kembali mengingatkan kita: “Hukum yang baik adalah hukum yang berdiri di atas keadilan, bukan kekuasaan.” Jika hukum terus tunduk pada kekuasaan, maka rakyat akan kehilangan pegangan, dan yang tersisa hanyalah kemarahan.

Berita Terkait

Rakyat Antre Berkas, Orang Dekat Kekuasaan Diduga Langsung Lolos?
Mari Kita Buat MR Ball yang Lebih Megah
Wakil Bupati atau Pajangan Serambi?
Kurban Iduladha 2026: Jangan Sampai Dana Negara dan BUMN Menjadi Alat Politik di Madura
Yang Paling Menakutkan Bukan Uang Habis, Tapi Hidup yang Tidak Pernah Berubah
Jenderal yang Tak Menunggu Telepon
Menolak Menjadi Robot: Menggugat Kematian Imajinasi di Menara Gading
LSM: Lapar Siang Malam
Berita ini 20 kali dibaca

Berita Terkait

Monday, 1 June 2026 - 08:22

Rakyat Antre Berkas, Orang Dekat Kekuasaan Diduga Langsung Lolos?

Sunday, 31 May 2026 - 21:47

Mari Kita Buat MR Ball yang Lebih Megah

Saturday, 30 May 2026 - 21:01

Wakil Bupati atau Pajangan Serambi?

Friday, 29 May 2026 - 18:05

Kurban Iduladha 2026: Jangan Sampai Dana Negara dan BUMN Menjadi Alat Politik di Madura

Tuesday, 26 May 2026 - 03:03

Yang Paling Menakutkan Bukan Uang Habis, Tapi Hidup yang Tidak Pernah Berubah

Berita Terbaru