Jijik! Telur Lalat Ditemukan di Makanan MBG, Kepala Dapur SPPG Yayasan Al-Bukhori Murtajih, dan Kades Dikecam

Monday, 6 April 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

PAMEKASAN, Newsline.id – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang seharusnya menjadi solusi peningkatan gizi bagi masyarakat justru menuai sorotan tajam. Kali ini, dugaan makanan tidak higienis mencuat dari Dapur SPPG Yayasan Al-Bukhori Murtajih, Pamekasan, setelah ditemukan telur lalat dalam salah satu menu yang disajikan.

Temuan tersebut langsung memicu reaksi keras dari masyarakat. Pasalnya, program yang dibiayai dengan anggaran tidak sedikit itu justru dinilai abai terhadap standar kebersihan dan kelayakan konsumsi.

Seorang wali murid yang enggan disebutkan namanya mengungkapkan kekecewaannya. Ia mengaku jijik dan marah setelah mengetahui makanan yang dikonsumsi anak-anak mengandung telur lalat.

“Ini bukan sekadar lalai, ini sudah keterlaluan. Anak-anak kami yang seharusnya mendapatkan makanan bergizi malah disuguhi makanan menjijikkan,” ujarnya dengan nada geram.

Kejadian ini menjadi pukulan telak bagi kredibilitas pengelola program MBG di wilayah tersebut. Alih-alih meningkatkan kualitas gizi, program ini justru berpotensi membahayakan kesehatan penerima manfaat.

Sorotan utama mengarah kepada Kepala Dapur SPPG Yayasan Al-Bukhori Murtajih yang dinilai gagal menjalankan fungsi pengawasan dan standar kebersihan makanan. Dalam program sebesar MBG, pengelolaan dapur seharusnya mengikuti prosedur ketat, mulai dari pemilihan bahan hingga penyajian.

Baca Juga 

Namun fakta di lapangan menunjukkan hal sebaliknya. Adanya telur lalat dalam makanan menjadi indikasi kuat bahwa proses produksi makanan dilakukan secara serampangan dan tanpa kontrol higienitas yang layak.

Aktivis Pamekasan menilai bahwa kejadian ini bukan sekadar insiden biasa, melainkan bentuk kelalaian serius.

“Ini bukan kesalahan kecil. Ini menyangkut kesehatan publik, khususnya anak-anak. Kepala dapur harus bertanggung jawab, bahkan jika perlu dicopot,” tegasnya.

Tak hanya kepala dapur, kepala desa setempat juga menjadi sasaran kritik. Sebagai pihak yang memiliki peran dalam pengawasan program di tingkat desa, kepala desa dinilai tidak boleh lepas tangan.

Masyarakat mempertanyakan sejauh mana kontrol dan monitoring yang dilakukan pemerintah desa terhadap pelaksanaan program MBG tersebut.

“Kepala desa jangan hanya diam. Ini program di wilayahnya. Kalau sampai ada makanan sekotor ini, berarti pengawasannya nol besar,” kata salah satu tokoh masyarakat.

Bahkan, beberapa pihak menduga adanya pembiaran sistemik terhadap standar operasional yang seharusnya diterapkan dalam pengelolaan dapur MBG.

Kehadiran telur lalat dalam makanan bukan hanya soal menjijikkan, tetapi juga berpotensi membawa bakteri berbahaya yang dapat memicu penyakit. Anak-anak sebagai penerima manfaat tentu menjadi kelompok paling rentan.

Baca Juga  Warga mendesak BGN dan Presiden Prabowo audit dapur MBG di Pamekasan, diduga ada permainan harga bahan baku demi keuntungan pribadi.

Tenaga kesehatan mengingatkan bahwa makanan yang terkontaminasi dapat menyebabkan gangguan pencernaan, infeksi, hingga keracunan makanan jika tidak segera ditangani.

Kasus ini memicu desakan agar dilakukan evaluasi total terhadap pelaksanaan program MBG di Pamekasan, khususnya di dapur SPPG Yayasan Al-Bukhori Murtajih.

Masyarakat meminta agar:

Dilakukan audit menyeluruh terhadap pengelolaan dapur

Kepala dapur diberi sanksi tegas

Kepala desa dimintai pertanggungjawaban

Standar kebersihan diperketat secara serius

Jika tidak ada tindakan tegas, kepercayaan publik terhadap program MBG dikhawatirkan akan semakin merosot.

Program Makan Bergizi Gratis sejatinya merupakan langkah positif pemerintah dalam meningkatkan kualitas gizi masyarakat. Namun, tanpa pengawasan dan pelaksanaan yang serius, program ini justru berpotensi menjadi bumerang.

Kasus di Pamekasan ini menjadi peringatan keras bahwa pengelolaan program sosial tidak boleh asal jalan. Ketika menyangkut kesehatan anak-anak, tidak ada ruang untuk kelalaian sekecil apa pun.

Kini, publik menunggu langkah tegas dari pihak terkait. Apakah akan ada tanggung jawab nyata, atau justru kembali berakhir tanpa kejelasan seperti kasus-kasus sebelumnya?

Upaya konfirmasi kepada kepala dapur masih keterbatasan komunikasi.

Penulis : Red

Editor : MTAB

Berita Terkait

KI Sumenep Gandeng UNIBA Madura, Dorong Mahasiswa Melek Keterbukaan Informasi
PR Bromo Mas Manding Disorot, Dugaan “Ternak” Pita Cukai Mencuat ke Publik
Eks Kades Longos Diduga Tabrak Pengunjung Kafe, Dipicu Konflik Pembayaran LC
Deretan PR Disorot, Dugaan Mafia Pita Cukai di Sumenep Mencuat
Satu Donasi, Satu Harapan Hidup Baru untuk Mereka, JatimNewsline Ajak Publik Bantu Biaya Operasi
Pokir DPRD Disorot, Jalan di Dusun Langger Rusak Sebelum Setahun
Kasus Video Asusila Pelajar SMP Terbongkar, Polres Pamekasan Amankan ABH dan Buru Penyebar
Menuju Pilkades Ra’as 2027: Menggugat Tradisi “Kucing dalam Karung” Lewat Adu Gagasan
Berita ini 122 kali dibaca

Berita Terkait

Thursday, 23 April 2026 - 11:48

KI Sumenep Gandeng UNIBA Madura, Dorong Mahasiswa Melek Keterbukaan Informasi

Wednesday, 22 April 2026 - 23:53

PR Bromo Mas Manding Disorot, Dugaan “Ternak” Pita Cukai Mencuat ke Publik

Wednesday, 22 April 2026 - 22:32

Eks Kades Longos Diduga Tabrak Pengunjung Kafe, Dipicu Konflik Pembayaran LC

Wednesday, 22 April 2026 - 10:14

Deretan PR Disorot, Dugaan Mafia Pita Cukai di Sumenep Mencuat

Wednesday, 22 April 2026 - 09:53

Satu Donasi, Satu Harapan Hidup Baru untuk Mereka, JatimNewsline Ajak Publik Bantu Biaya Operasi

Berita Terbaru