Sanimas Desa Pakamban Laok Diduga Bermasalah, Anggaran Rp300 Juta Hanya Terlihat 20 Titik

Thursday, 18 September 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

SUMENEP, Newsline.id – Program Sanitasi Masyarakat (Sanimas) tahun 2024 di Desa Pakamban Laok, Kecamatan Pragaan, Kabupaten Sumenep, menuai sorotan publik. Dengan anggaran sekitar Rp300 juta, proyek tersebut hanya terlihat dikerjakan pada 20 titik. Jumlah itu dinilai tidak sebanding dengan besaran dana yang digelontorkan.

Warga setempat menyebut, kualitas pekerjaan pun dinilai jauh dari harapan.

“Kalau dilihat dari hasilnya, tidak sepadan dengan dana sebesar itu. Diduga ada pemotongan anggaran untuk kepentingan pribadi,” ujar salah seorang warga yang enggan disebutkan namanya, Rabu (18/9/2025).

Seperti diketahui, program Sanimas merupakan upaya pemerintah untuk meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat melalui pembangunan sarana sanitasi yang layak. Namun, pelaksanaan di lapangan seringkali mendapat sorotan karena dugaan ketidaksesuaian antara anggaran dan realisasi pekerjaan.

Baca Juga  Direktur IDE@: Polemik Fatwa Penyambutan Valen DA7, Analis Nilai Negara Terlalu Masuk ke Ruang Seni

Di Desa Pakamban Laok, anggaran ratusan juta rupiah seharusnya mampu menghasilkan lebih banyak titik pembangunan sanitasi. Faktanya, warga hanya menemukan sekitar 20 titik.

“Seharusnya lebih dari itu, apalagi dengan dana segitu besar,” tambah warga lainnya.

Hingga kini, pihak pemerintah desa maupun kelompok pelaksana kegiatan belum memberikan penjelasan resmi terkait dugaan penyimpangan tersebut. Media ini berupaya menghubungi kepala desa Pakamban Laok, namun belum ada jawaban.

Aktivis pemerhati kebijakan publik di Sumenep menilai, kasus seperti ini harus segera diusut.

“Kalau memang benar hanya 20 titik, itu jelas janggal. Aparat penegak hukum wajib turun tangan untuk menyelidiki dugaan pemotongan anggaran,” tegas salah satu aktivis yang kerap mengkritisi penggunaan dana desa.

Baca Juga  Galian C Ilegal di Rombesan: Forkopimcam Dinilai Mandul dan Hanya Formalitas

Kasus ini menambah daftar panjang dugaan penyimpangan program infrastruktur berbasis masyarakat di Sumenep. Publik pun mendesak agar transparansi dan akuntabilitas penggunaan anggaran benar-benar ditegakkan, agar program yang seharusnya meningkatkan kesejahteraan warga tidak justru menjadi bancakan oknum tertentu.

Berita Terkait

Kasus Video Asusila Pelajar SMP Terbongkar, Polres Pamekasan Amankan ABH dan Buru Penyebar
Menuju Pilkades Ra’as 2027: Menggugat Tradisi “Kucing dalam Karung” Lewat Adu Gagasan
BPN Sumenep Dinilai “Pengecut”, Tak Mampu Beri Kepastian Kasus Penyerobotan Tanah Mangrove Kebundadap Timur
Panen Raya Sumenep Melejit, Serapan Gabah Tembus 6 Ribu Ton di Awal 2026
Langsung Diserbu! SkY Coffee Grounds Jadi Magnet Baru Nongkrong Anak Muda Sumenep
MYZE Hotel Sumenep Hadirkan Menu “Rebellious Hunger”, Dorong Tren Kuliner Berkelanjutan di Madura
Kids Atletik Getarkan Lapangan Armada, FKG PJOK Dasuk Siapkan Bibit Juara O2SN
Halal Bihalal dan Haul Majmuk Ponpes Al Usymuni Berlangsung Khidmat di Batang-Batang Sumenep
Berita ini 21 kali dibaca

Berita Terkait

Sunday, 19 April 2026 - 21:29

Kasus Video Asusila Pelajar SMP Terbongkar, Polres Pamekasan Amankan ABH dan Buru Penyebar

Saturday, 18 April 2026 - 23:55

Menuju Pilkades Ra’as 2027: Menggugat Tradisi “Kucing dalam Karung” Lewat Adu Gagasan

Saturday, 18 April 2026 - 10:35

BPN Sumenep Dinilai “Pengecut”, Tak Mampu Beri Kepastian Kasus Penyerobotan Tanah Mangrove Kebundadap Timur

Saturday, 18 April 2026 - 08:51

Panen Raya Sumenep Melejit, Serapan Gabah Tembus 6 Ribu Ton di Awal 2026

Friday, 17 April 2026 - 12:47

MYZE Hotel Sumenep Hadirkan Menu “Rebellious Hunger”, Dorong Tren Kuliner Berkelanjutan di Madura

Berita Terbaru