SUMENEP, Newsline.id – Program Sanitasi Masyarakat (Sanimas) tahun 2024 di Desa Pakamban Laok, Kecamatan Pragaan, Kabupaten Sumenep, menuai sorotan publik. Dengan anggaran sekitar Rp300 juta, proyek tersebut hanya terlihat dikerjakan pada 20 titik. Jumlah itu dinilai tidak sebanding dengan besaran dana yang digelontorkan.
Warga setempat menyebut, kualitas pekerjaan pun dinilai jauh dari harapan.
“Kalau dilihat dari hasilnya, tidak sepadan dengan dana sebesar itu. Diduga ada pemotongan anggaran untuk kepentingan pribadi,” ujar salah seorang warga yang enggan disebutkan namanya, Rabu (18/9/2025).
Seperti diketahui, program Sanimas merupakan upaya pemerintah untuk meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat melalui pembangunan sarana sanitasi yang layak. Namun, pelaksanaan di lapangan seringkali mendapat sorotan karena dugaan ketidaksesuaian antara anggaran dan realisasi pekerjaan.
Di Desa Pakamban Laok, anggaran ratusan juta rupiah seharusnya mampu menghasilkan lebih banyak titik pembangunan sanitasi. Faktanya, warga hanya menemukan sekitar 20 titik.
“Seharusnya lebih dari itu, apalagi dengan dana segitu besar,” tambah warga lainnya.
Hingga kini, pihak pemerintah desa maupun kelompok pelaksana kegiatan belum memberikan penjelasan resmi terkait dugaan penyimpangan tersebut. Media ini berupaya menghubungi kepala desa Pakamban Laok, namun belum ada jawaban.
Aktivis pemerhati kebijakan publik di Sumenep menilai, kasus seperti ini harus segera diusut.
“Kalau memang benar hanya 20 titik, itu jelas janggal. Aparat penegak hukum wajib turun tangan untuk menyelidiki dugaan pemotongan anggaran,” tegas salah satu aktivis yang kerap mengkritisi penggunaan dana desa.
Kasus ini menambah daftar panjang dugaan penyimpangan program infrastruktur berbasis masyarakat di Sumenep. Publik pun mendesak agar transparansi dan akuntabilitas penggunaan anggaran benar-benar ditegakkan, agar program yang seharusnya meningkatkan kesejahteraan warga tidak justru menjadi bancakan oknum tertentu.








