Oleh: Warga Hijau Hitam
Newsline.id – Hari pertama PBAK UIN Madura 2025 sudah dimulai dengan riuh, sorak-sorai mahasiswa baru, arahan panitia, hingga berbagai atribut organisasi mahasiswa yang dipasang dengan gagah di sekitar kampus. Namun, tiba-tiba ada kabar mengejutkan: bendera HMI hilang di depan gerbang kampus tanpa jejak.
Sekilas terdengar sepele, hanya bendera. Tapi mari kita ingat, di dunia kampus, simbol itu bukan sekadar kain. Ia adalah representasi eksistensi, identitas, bahkan marwah sebuah organisasi. Jadi ketika bendera HMI hilang, yang hilang bukan hanya kain hijau-hitam itu, tapi juga simbol eksistensi mahasiswa yang sedang diuji: apakah kampus benar-benar ruang kebebasan, atau hanya halaman parkir yang dijaga satpam?
Lucunya, bendera itu hilang tepat di depan gerbang masuk kampus. Gerbang yang katanya paling ketat penjagaannya, tempat mahasiswa harus menunjukkan kartu identitas, tempat motor mahasiswa sering dilarang parkir, bahkan tempat brosur acara mahasiswa sering disita. Tapi entah kenapa, bendera sebesar itu bisa raib begitu saja.
Apakah ada jin kampus yang sedang lapar kain hijau? Atau mungkin ada mahasiswa baru yang iseng ingin membawa pulang bendera sebagai kenang-kenangan? Atau lebih satir lagi: bendera itu sebenarnya tidak hilang, tapi sengaja “dihilangkan” agar tidak terlalu mencolok di depan gerbang.
Sebab mari jujur saja: beberapa tahun terakhir, organisasi mahasiswa seperti HMI sering dianggap terlalu kritis, terlalu cerewet, terlalu sering mengganggu ketenangan kampus dengan orasi dan spanduk. Jadi siapa tahu, hilangnya bendera ini hanyalah trik halus untuk “merapikan” pemandangan gerbang agar tetap terlihat steril.
Ketika ditanya soal hilangnya bendera, pihak kampus biasanya punya satu jawaban pamungkas: “Kami tidak tahu.”
Kalimat itu seakan menjadi mantra sakti yang bisa dipakai dalam segala situasi. Mau ada kasus kehilangan bendera, jawabannya “tidak tahu.” Ada mahasiswa dipukul aparat? “Tidak tahu.” Ada pungutan liar di lingkungan kampus? “Tidak tahu.”
Saking seringnya dipakai, kalimat “tidak tahu” ini sudah layak dicetak di baliho besar di depan gerbang: “Selamat Datang di UIN Madura. Kalau ada apa-apa, kami tidak tahu.”
Satirnya, di kampus yang katanya melahirkan akademisi, justru logika paling dasar sering hilang. Bagaimana mungkin benda sebesar bendera hilang di depan gerbang tanpa seorang pun tahu? Kalau benar-benar tidak tahu, berarti sistem keamanan kampus layak dipertanyakan. Kalau pura-pura tidak tahu, berarti ada hal yang sengaja ditutup-tutupi.
Bendera HMI bukan hanya kain hijau. Ia adalah simbol perjuangan, simbol eksistensi mahasiswa yang sudah puluhan tahun mewarnai sejarah pergerakan bangsa. Hilangnya bendera itu di depan kampus bukan hanya soal barang hilang, tapi juga soal demokrasi yang terancam pelan-pelan dikikis.
Kalau simbol mahasiswa saja bisa hilang tanpa jejak, apa jaminannya bahwa suara kritis mahasiswa tidak akan mengalami nasib serupa? Hari ini bendera hilang, besok mungkin spanduk aksi yang diturunkan, lusa mungkin mimbar bebas yang dibungkam, dan akhirnya mahasiswa dipaksa jadi penonton pasif.
Hilangnya bendera ini adalah alarm. Tapi sayangnya, pihak kampus justru memasang telinga kapas. Alarm bunyi, mereka tetap tidur nyenyak.
Fenomena lain yang cukup menggelikan adalah: di saat bendera mahasiswa hilang, kampus justru sibuk mengatur pakaian mahasiswa baru. Ada aturan panjang soal seragam: kemeja putih, bawahan hitam, jilbab tertentu, sepatu hitam, bahkan ada yang sampai detail ke dasi.
Seolah-olah, penampilan luar lebih penting daripada isi kepala. Seolah-olah, mahasiswa baru hanya dinilai dari kerapian pakaian, bukan dari keberanian bersuara.
Dan inilah satirnya: bendera organisasi mahasiswa yang hilang tidak dianggap penting, tapi dasi mahasiswa baru yang lupa dipakai bisa langsung ditegur.
Beberapa mahasiswa senior HMI yang kesal dengan hilangnya bendera, melontarkan pertanyaan satir: “Kampus ini milik siapa? Milik negara, milik mahasiswa, atau milik orang-orang yang alergi dengan organisasi mahasiswa?”
Pertanyaan itu penting. Sebab kampus seharusnya jadi ruang belajar demokrasi, ruang berekspresi, ruang kebebasan intelektual. Tapi kalau simbol organisasi mahasiswa saja bisa hilang tanpa jejak, mahasiswa jadi ragu: apakah kampus ini benar-benar rumah kita, atau hanya gedung formalitas tempat kita datang kuliah lalu pulang tanpa punya ruang suara?
Kabar yang beredar, di gerbang kampus ada CCTV. Tapi seperti biasa, CCTV sering hanya berfungsi sebagai pajangan. Layaknya ornamen mushola yang lebih sering terkunci, CCTV di kampus kadang hanya dipasang untuk formalitas.
Kalau bendera sebesar itu bisa hilang tanpa rekaman CCTV yang jelas, maka kita berhak bertanya: apakah CCTV di UIN Madura itu benar-benar menyala, atau hanya kotak hitam yang digantung untuk gaya-gayaan?
Mari kita tarik napas sebentar. Hilangnya bendera HMI mungkin terdengar remeh bagi sebagian orang. Tapi kalau kita renungkan lebih dalam, ia adalah cermin. Cermin bahwa kampus bisa begitu abai pada simbol mahasiswa. Cermin bahwa kampus lebih peduli pada seragam formalitas ketimbang demokrasi substansial.
Bendera hanyalah awal. Hari ini bendera, besok mungkin suara kritis, lusa mungkin mimbar bebas, dan akhirnya yang hilang bukan lagi atribut mahasiswa, tapi marwah kampus itu sendiri.
Kalau UIN Madura terus pura-pura lupa, terus menganggap remeh hal-hal semacam ini, jangan salahkan mahasiswa jika suatu hari mereka menulis sejarah satir: “Di kampus ini, bendera saja bisa hilang. Apalagi kebebasan.”








