Oleh: Moch Thoriqil Akmal, S.H
OPINI, Newsline.id – Pertanyaan itu terdengar sederhana, tetapi sering kali datang bersama penghakiman yang panjang.
“Kenapa perempuan mau menyerahkan tubuhnya?”
Seolah-olah perempuan bangun pagi, bercermin, lalu berkata, “Hari ini saya ingin menjual harga diri.” Seolah-olah setiap keputusan tentang tubuh lahir dari pikiran yang benar-benar bebas, tanpa tekanan ekonomi, tanpa relasi kuasa, tanpa rasa takut kehilangan seseorang, dan tanpa kebutuhan untuk bertahan hidup.
Lucunya, masyarakat kita sangat rajin menjaga tubuh perempuan—tetapi sering lupa menjaga kehidupan perempuan.
Ketika perempuan berpakaian terlalu terbuka, disalahkan. Ketika perempuan dekat dengan laki-laki kaya, dicurigai. Ketika perempuan mendapatkan fasilitas dari seorang laki-laki, langsung muncul pertanyaan: “Apa imbalannya?”
Namun ketika laki-laki menggunakan uang untuk mendapatkan perhatian, kedekatan, bahkan tubuh perempuan, sebagian orang menyebutnya sebagai bentuk kemampuan menafkahi.
Begitulah moral kadang bekerja: keras kepada yang tidak punya uang, tetapi mendadak sangat fleksibel ketika berhadapan dengan uang.
Ada perempuan yang menyerahkan tubuhnya karena merasa dicintai. Ada yang karena membutuhkan biaya hidup. Ada yang karena dijanjikan masa depan. Ada pula yang terjebak dalam hubungan di mana uang berubah menjadi tali yang mengikat.
Awalnya mungkin hanya bantuan.
“Aku bantu kamu.”
Kemudian berubah menjadi:
“Aku sudah banyak berkorban untuk kamu.”
Lalu perlahan menjadi:
“Kalau kamu mencintaiku, seharusnya kamu mengerti apa yang aku mau.”
Dan akhirnya, bantuan berubah menjadi klaim kepemilikan.
Di titik itu, yang terjadi bukan lagi sekadar hubungan antara laki-laki dan perempuan. Ada persoalan ketimpangan kuasa.
Sebab uang bukan hanya alat untuk membeli barang. Dalam hubungan tertentu, uang bisa berubah menjadi alat untuk mengendalikan keputusan seseorang.
Perempuan yang tidak punya penghasilan mungkin merasa tidak memiliki pilihan. Perempuan yang bergantung pada seseorang mungkin takut kehilangan sumber kehidupannya. Perempuan yang sudah terlalu jauh menerima bantuan mungkin merasa memiliki utang yang tidak pernah tertulis di atas kertas.
Dan di situlah ironi terbesar muncul.
Kita sering bertanya:
“Kenapa dia mau?”
Tetapi jarang bertanya:
“Seberapa bebas sebenarnya dia untuk mengatakan tidak?”
Sebab mengatakan tidak jauh lebih mudah bagi seseorang yang tidak bergantung kepada siapa pun.
Orang yang punya uang bisa berkata, “Saya tidak membutuhkanmu.”
Tetapi orang yang kehidupannya bergantung pada uang orang lain mungkin tidak memiliki kemewahan untuk mengatakan hal yang sama.
Itulah sebabnya kita perlu berhati-hati ketika berbicara tentang perempuan yang menyerahkan tubuhnya.
Bukan berarti semua perempuan adalah korban.
Tidak.
Perempuan adalah manusia yang memiliki kehendak, keputusan, dan tanggung jawab atas pilihannya sendiri. Ada yang memang memilih berdasarkan keinginannya. Ada yang menjalani hubungan karena cinta. Ada pula yang membuat keputusan yang mungkin tidak kita pahami.
Tetapi tidak semua keputusan manusia lahir dari kondisi yang setara.
Ada keputusan yang lahir dari kebebasan.
Ada pula keputusan yang lahir dari keadaan.
Dan dua hal itu tidak selalu bisa dibedakan hanya dengan melihat dari luar.
Yang lebih menggelikan adalah ketika masyarakat begitu sibuk menghitung “harga diri perempuan”, tetapi tidak pernah bertanya berapa harga kemiskinan, berapa harga ketergantungan, dan berapa harga kesepian.
Seorang perempuan mungkin menerima uang bukan karena tubuhnya murah.
Bisa jadi karena kehidupannya sedang mahal.
Biaya makan mahal.
Biaya pendidikan mahal.
Biaya tempat tinggal mahal.
Biaya menjadi seorang perempuan yang harus bertahan sendirian juga mahal.
Dan ketika datang seseorang membawa uang sekaligus perhatian, batas antara cinta dan ketergantungan bisa menjadi sangat tipis.
Di situlah manusia sering salah membaca keadaan.
Kita melihat seorang perempuan mendapatkan mobil, rumah, uang, atau fasilitas.
Lalu berkata:
“Enak sekali hidupnya.”
Padahal kita tidak tahu apa yang harus ia korbankan untuk mempertahankan semua itu.
Kita melihat kemewahan sebagai hasil.
Tetapi tidak pernah melihat harga yang mungkin dibayar di belakangnya.
Namun, ada satu hal yang juga harus dikritik: jangan pula semua perempuan yang menerima pemberian laki-laki langsung ditempatkan sebagai korban.
Itu juga bentuk penghinaan.
Perempuan bukan makhluk yang selalu tidak berdaya. Mereka mampu memilih, berpikir, menghitung risiko, bahkan mengambil keputusan yang secara sadar mereka anggap paling baik untuk hidupnya.
Masalahnya bukan pada apakah seorang perempuan menerima pemberian atau tidak.
Masalahnya muncul ketika pemberian berubah menjadi tuntutan, perhatian berubah menjadi kontrol, dan cinta berubah menjadi transaksi yang memaksa.
Sebab hubungan yang sehat tidak mengatakan:
“Aku sudah membayar hidupmu, maka tubuhmu menjadi milikku.”
Hubungan yang sehat mengatakan:
“Aku memilih bersamamu, dan kamu tetap memiliki kebebasan untuk memilih bersamaku atau tidak.”
Tubuh manusia bukan kuitansi.
Cinta bukan kontrak jual beli.
Dan bantuan bukan tiket untuk memiliki seseorang.
Maka mungkin pertanyaan yang lebih tepat bukan:
“Kenapa perempuan menyerahkan tubuhnya?”
Tetapi:
“Mengapa dalam kehidupan yang katanya modern, masih ada manusia yang merasa uang memberinya hak atas tubuh manusia lain?”
Pertanyaan itu jauh lebih mengganggu.
Karena kalau kita terus menyalahkan perempuan hanya karena tubuhnya terlihat sebagai “harga”, kita akan lupa bertanya kepada siapa sebenarnya harga itu dibayarkan.
Dan mungkin, pada akhirnya, persoalannya bukan tentang perempuan yang menyerahkan tubuh.
Melainkan tentang dunia yang terlalu sering membuat manusia harus memilih antara harga diri dan kebutuhan hidup.
Ironisnya, masyarakat kemudian datang sebagai hakim setelah perempuan selesai menjalani pertarungannya.
Mereka tidak ikut membayar ketika perempuan lapar.
Tidak ikut menemani ketika perempuan sendirian.
Tidak ikut menanggung ketika hidupnya runtuh.
Tetapi ketika perempuan mengambil keputusan yang tidak mereka sukai, mereka datang membawa satu kata yang paling mudah diucapkan:
“Moral.”
Barangkali sebelum menghakimi seseorang, kita perlu bertanya lebih dahulu:
Apakah kita benar-benar tahu perjuangan yang membuatnya sampai pada keputusan itu?
Karena terkadang, orang yang terlihat sedang menjual dirinya sebenarnya sedang berusaha membeli satu hal yang jauh lebih mahal:
kesempatan untuk tetap hidup.
Penulis : R IE Q
Editor : MTAB








