Oleh: Moch Thoriqil Akmal B, S.H
OPINI, Newsline.id – Ada kalimat yang sering membuat sebagian orang tersentak: “Tuhan tidak perlu dibela.” Kalimat ini terdengar provokatif, bahkan dianggap sesat oleh sebagian kalangan. Tapi mari kita pikir jernih bagaimana mungkin Tuhan, yang Maha Kuasa, Maha Mengetahui, dan Maha Segalanya, memerlukan pembelaan dari manusia yang bahkan sering tak mampu membela dirinya sendiri dari hawa nafsu?
Sering kali, yang disebut “membela Tuhan” hanyalah topeng dari ego keagamaan. Orang merasa imannya paling benar, tafsirnya paling murni, dan keyakinannya paling suci. Lalu, ketika ada yang berbeda pandang, ia marah, merasa Tuhan sedang dihina, dan merasa wajib menegakkan “keadilan” atas nama langit. Padahal yang sedang ia bela bukanlah Tuhan, tapi gengsi imannya sendiri.
Tuhan tidak butuh dibela dengan kemarahan, teriakan, atau darah. Ia butuh dibuktikan lewat akhlak. Lewat kesabaran menghadapi perbedaan, lewat kasih sayang pada sesama, dan lewat kejujuran dalam hidup. Itulah bentuk pembelaan sejati bukan dengan menghunus pedang atau mengirim hujatan di kolom komentar.
Lihatlah sejarah: hampir semua perang agama bukan dimulai karena Tuhan, tapi karena tafsir tentang Tuhan. Manusia memonopoli kebenaran seolah kunci surga ada di saku bajunya. Padahal, yang sering ia lakukan justru mempermalukan Tuhan yang katanya ia bela sebab kekerasan dan kebencian tidak pernah memantulkan cahaya ketuhanan, hanya bayangan gelap keangkuhan.
Tuhan menciptakan akal agar manusia berpikir, bukan hanya berteriak. Mungkin di situ letak keagungan-Nya: Ia tidak butuh pasukan pembela, hanya butuh manusia yang menggunakan nurani. Jika Tuhan memang Maha Kuasa, apa gunanya manusia yang marah-marah di jalanan demi “membela” nama-Nya?
Membela Tuhan berarti menjaga ciptaan-Nya. Membela Tuhan berarti tidak korupsi, tidak menipu, tidak menindas yang lemah. Membela Tuhan berarti melindungi alam, menolong sesama, dan hidup dengan rasa hormat kepada perbedaan. Kalau masih mudah marah karena perbedaan keyakinan, mungkin yang kita bela bukan Tuhan, tapi ego yang ingin terlihat paling benar di mata manusia.
Tuhan tidak pernah minta dibela. Ia hanya minta dikenali, disyukuri, dan ditaati dengan hati yang bersih. Selebihnya, biarkan Tuhan menjadi Tuhan, sebab Dia tidak butuh pertolongan dari kita. Justru kita yang selalu butuh belas kasih-Nya.








