Sumenep, Dunia Malam dan Ketidaksehatan

Saturday, 24 October 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Ach. Thoifur Ali Wafa

OPINI, Newsline.id – Kabupaten Sumenep dalam beberapa waktu terakhir semakin sering menjadi sorotan melalui berbagai gelaran event, baik yang diselenggarakan pemerintah maupun pihak swasta.

Festival budaya, kesenian, hiburan hingga berbagai agenda ekonomi kreatif ikut membentuk wajah Sumenep sebagai daerah yang memiliki kekayaan tradisi sekaligus potensi pariwisata.

Event-event tersebut tentu membawa dampak positif. UMKM mendapatkan ruang, pelaku ekonomi lokal memperoleh perputaran transaksi, sektor jasa bergerak dan kunjungan masyarakat dari berbagai daerah ikut meningkat.

Namun, di balik gemerlap event dan geliat ekonomi tersebut, terdapat sisi lain yang juga patut dibicarakan secara terbuka: dunia malam dan ekosistem usaha hiburan yang membutuhkan tata kelola sehat, keterbukaan internal, serta hubungan antarpelaku usaha yang tidak dibangun atas dasar ego dan kepentingan sesaat.

Sebab, ketika sebuah ekosistem usaha mulai tidak sehat, persoalannya bukan lagi sebatas siapa mendapatkan keuntungan lebih besar. Persoalan dapat berkembang menjadi konflik internal, kebocoran informasi, saling curiga, perebutan pengaruh, hingga rusaknya berbagai perangkat pendukung usaha.

Ketika Ego Oknum Merusak Inventaris Pendukung

Salah satu persoalan yang perlu menjadi perhatian adalah ketika inventaris atau perangkat pendukung usaha yang seharusnya menjadi bagian dari sistem justru terganggu, dirusak, dipindahkan, dibatasi, atau tidak difungsikan sebagaimana mestinya karena kepentingan dan ego oknum tertentu.

Dalam sebuah usaha, inventaris bukan sekadar benda.

Peralatan, fasilitas pendukung, sistem administrasi, perangkat operasional, jaringan komunikasi, data, hingga sarana penunjang lainnya merupakan bagian dari modal kerja. Ketika satu bagian saja sengaja dibuat tidak berfungsi karena kepentingan personal, dampaknya dapat menjalar ke seluruh sistem.

Lebih berbahaya lagi apabila ada pihak yang merasa memiliki kuasa hanya karena memiliki posisi, kedekatan, akses atau pengaruh tertentu.

Usaha bersama bukan kerajaan pribadi.

Tidak semestinya ada seseorang yang kemudian merasa dapat menentukan semuanya seorang diri, apalagi sampai mengorbankan kepentingan usaha dan orang-orang yang menggantungkan penghasilan di dalamnya.

Jika inventaris pendukung rusak karena kelalaian, tentu harus diperbaiki. Tetapi apabila kerusakan atau terganggunya fungsi inventaris diduga berkaitan dengan ego, konflik kepentingan atau tindakan oknum tertentu, maka persoalannya menjadi jauh lebih serius.

Baca Juga  MBG — Makan Gratis yang Tidak Lagi Gratis, tapi “Makan Bersama Golongan”

Karena yang dirusak bukan hanya benda.

Yang ikut rusak adalah kepercayaan, sistem kerja, stabilitas usaha dan nilai kebersamaan.

Dunia Malam Tidak Bisa Berjalan dengan Satu Kepala

Pengelola usaha juga tidak dapat hanya berdiam diri, menerima pemasukan yang fluktuatif setiap malam, setiap pekan atau setiap bulan, kemudian menganggap semuanya akan berjalan dengan sendirinya.

Setiap usaha membutuhkan evaluasi.

Karyawan harus menjadi bagian dari ruang evaluasi tersebut. Keluhan harus didengar. Perubahan situasi harus dibaca. Risiko harus dipetakan. Bahkan persoalan kecil yang terjadi di lapangan harus segera dibicarakan sebelum berkembang menjadi konflik besar.

Pengelola juga perlu membangun kekuatan eksternal secara sehat.

Bukan untuk menciptakan kelompok-kelompok yang saling berhadapan, melainkan membangun jaringan yang dapat membantu usaha tetap berjalan sesuai koridor, aturan dan kepentingan bersama.

Sebab, dunia usaha yang hanya bergantung pada satu atau dua orang akan sangat rentan.

Ketika satu orang berubah sikap, sistem ikut berubah.

Ketika satu orang membawa kepentingan pribadi, keputusan bisa ikut bergeser.

Ketika satu orang merasa paling berkuasa, ruang dialog bisa tertutup.

Di titik inilah sebuah usaha mulai kehilangan kesehatannya.

Kebocoran Internal Jangan Dianggap Persoalan Kecil

Drama, isu dan persoalan klasik dalam sebuah lingkungan usaha sebenarnya bukan sesuatu yang muncul secara tiba-tiba.

Sering kali persoalan bermula dari komunikasi yang buruk, kecemburuan, ketidakjelasan pembagian peran, kepentingan pribadi, lemahnya pengawasan hingga ketidakmampuan membaca perubahan situasi.

Ketika masalah internal tidak diselesaikan, kebocoran mulai terjadi.

Informasi keluar.

Kepercayaan pecah.

Kelompok-kelompok terbentuk.

Satu pihak mulai menyerang pihak lain.

Dan pada akhirnya, yang menjadi korban bukan hanya individu, tetapi seluruh ekosistem usaha.

Karena itu, membaca persoalan tidak boleh hanya berpijak pada satu atau dua sudut pandang. Diperlukan taktik, strategi, evaluasi dan kemampuan melihat persoalan secara menyeluruh.

Bukan mencari siapa yang harus disalahkan, tetapi mencari apa yang sebenarnya rusak dan bagaimana memperbaikinya.

Jangan Sampai Dunia Malam Menjadi Tidak Sehat

Dunia malam, sebagaimana sektor usaha lainnya, juga membutuhkan tata kelola yang sehat.

Ada aturan yang harus dihormati. Ada pekerja yang harus dilindungi kepentingannya. Ada pengusaha yang membutuhkan kepastian usaha. Ada masyarakat yang berhak mendapatkan lingkungan yang tertib. Dan ada pemerintah yang memiliki kewajiban melakukan pembinaan serta pengawasan sesuai ketentuan.

Baca Juga  Menolak Menjadi Robot: Menggugat Kematian Imajinasi di Menara Gading

Karena itu, keharmonisan antar-pengusaha menjadi penting.

Persaingan boleh terjadi, tetapi jangan sampai berubah menjadi permusuhan.

Perbedaan kepentingan boleh muncul, tetapi jangan sampai menghancurkan sistem.

Kritik boleh disampaikan, tetapi jangan menjadikan inventaris, fasilitas, pekerja atau perangkat pendukung sebagai korban dari konflik personal.

Yang jauh lebih penting adalah menjaga nilai.

Nilai profesionalitas.

Nilai kepercayaan.

Nilai tanggung jawab.

Nilai keadilan.

Dan nilai bahwa sebuah usaha tidak dibangun oleh satu orang saja.

Ketika Semua Saling Sikat

Jika dunia malam mulai tidak sehat, internal dan eksternal saling berhadapan, inventaris pendukung mulai memiliki sekat, komunikasi mengalami kebocoran, drama bermunculan, isu beredar tanpa penyelesaian dan kepentingan personal lebih dominan daripada kepentingan usaha, maka tinggal menunggu waktu sebelum persoalan yang selama ini tersembunyi terbuka ke permukaan.

Pada titik itu, pertanyaannya bukan lagi siapa yang paling berkuasa.

Pertanyaannya justru:

Siapa yang masih memiliki kepedulian untuk menyelamatkan sistem?

Sebab kekuasaan yang dibangun dengan ego hanya akan melahirkan ketakutan.

Sebaliknya, kepemimpinan yang dibangun dengan komunikasi, evaluasi dan rasa keadilan akan melahirkan kepercayaan.

Sumenep boleh terus bergerak dengan event, festival, UMKM, pariwisata dan ekonomi kreatif. Tetapi di tengah geliat tersebut, seluruh ekosistem usaha tetap membutuhkan ruang untuk berbenah.

Termasuk dunia malam.

Jika ada persoalan internal, selesaikan secara internal dengan mekanisme yang sehat.

Jika ada inventaris yang rusak atau terganggu, periksa penyebabnya secara objektif.

Jika ada oknum yang bertindak melampaui kewenangan, evaluasi sesuai aturan.

Dan jika ada kebocoran informasi maupun konflik kepentingan, jangan ditutup-tutupi sampai akhirnya menjadi bom waktu.

Karena pada akhirnya, yang paling mahal dari sebuah usaha bukan inventarisnya, bukan omzetnya dan bukan pula pengaruh seseorang.

Yang paling mahal adalah kepercayaan.

Sekali kepercayaan rusak, memperbaikinya jauh lebih sulit daripada memperbaiki sebuah benda.

Dan apabila dunia malam ingin tetap menjadi bagian dari denyut ekonomi Sumenep, maka yang harus dijaga bukan hanya bagaimana usaha tetap menghasilkan pemasukan, tetapi bagaimana seluruh ekosistemnya tetap sehat, tertib, profesional dan berkeadilan.

Penulis : Thoifur Ali Wafa

Editor : Moch Thoriqil Akmal

Berita Terkait

Samhari, S.IP.: Membaca Kekuasaan, Mengawal Kebijakan, dan Menjaga Nalar Kritis Publik
SURAT AI PADA PRESIDEN DAN MENHAN
“TEMPO” Berjudi Di Madura
Asset Recovery with Due Process: Menakar Batas Kekuasaan Negara dalam RUU Perampasan Aset
Merdeka di Tiang Bendera
Merdeka di Bendera; Kemerdekaan yang Dirayakan, Keadilan yang Dipertanyakan
Kenapa Perempuan Menyerahkan Tubuhnya?
Sumenep Kepulauan: Mengganti Nama atau Mengganti Nasib?
Berita ini 1 kali dibaca
Tag :

Berita Terkait

Saturday, 24 October 2026 - 03:51

Sumenep, Dunia Malam dan Ketidaksehatan

Thursday, 1 October 2026 - 15:46

SURAT AI PADA PRESIDEN DAN MENHAN

Sunday, 13 September 2026 - 00:08

“TEMPO” Berjudi Di Madura

Sunday, 6 September 2026 - 19:02

Asset Recovery with Due Process: Menakar Batas Kekuasaan Negara dalam RUU Perampasan Aset

Monday, 17 August 2026 - 05:44

Merdeka di Tiang Bendera

Berita Terbaru

OPINI

Sumenep, Dunia Malam dan Ketidaksehatan

Saturday, 24 Oct 2026 - 03:51