PAMEKASAN, Newsline.id – Janji manis pemerintah pusat membentuk Satgas Pencegahan dan Penindakan Barang Kena Cukai Ilegal (Satgas BKC Ilegal) kini mulai dipertanyakan. Pasalnya, sudah hampir dua bulan sejak satgas tersebut diresmikan pada Juli 2025, tidak ada satu pun tindak nyata di lapangan.
Ironisnya, rokok ilegal merek Masterclass yang diduga milik H. Munaji, seorang ASN yang pensiun dini dan sempat terseret kasus korupsi, masih bebas beredar di Pamekasan. Dari warung kecil di pelosok hingga toko modern, produk tanpa pita cukai itu bisa dengan mudah ditemukan.
“Bilangnya satgas dibentuk untuk memberantas rokok ilegal, tapi kenyataannya sampai sekarang nihil aksi. Masterclass masih bisa dibeli di mana-mana. Jadi ini satgas kerja atau satgas tidur?” sindir Farid, aktivis muda asal Pamekasan.
Kemarahan publik makin memuncak karena Bea Cukai Madura yang digadang-gadang jadi ujung tombak penindakan, justru dinilai tak punya nyali. Selama ini, razia rokok ilegal lebih sering menyasar pengecer kecil, sementara merek besar seperti Masterclass seolah dilindungi.
“Kalau ada warung kecil jual rokok tanpa cukai, gampang sekali ditindak. Tapi kalau pemain besar seperti Munaji, pura-pura tidak tahu. Bea Cukai ini kerja untuk negara atau untuk mafia?” ujar Halim, pedagang di Pamekasan.
Bahkan, beberapa pengamat menilai Bea Cukai seakan sudah diperkosa oleh jaringan mafia rokok ilegal. Aparat yang seharusnya menjadi benteng penerimaan negara justru terkesan ikut menjaga peredaran rokok haram tersebut.
Satgas BKC Ilegal dibentuk dengan janji manis: memperkuat koordinasi lintas lembaga, dari Bea Cukai, Polri, Kejaksaan, hingga pemerintah daerah. Namun, sampai sekarang, tidak ada satu pun langkah tegas terhadap Masterclass.
“Kalau Satgas ini hanya formalitas, lebih baik dibubarkan saja. Negara rugi triliunan rupiah tiap tahun, tapi satgas masih main aman. Jangan-jangan ada ‘uang damai’ yang mengalir ke oknum aparat,” kata Hasyim, aktivis antikorupsi Madura.
Masyarakat menilai, penindakan terhadap Masterclass akan menjadi tolak ukur utama apakah Satgas BKC Ilegal benar-benar bekerja atau hanya proyek pencitraan.
Data Kementerian Keuangan mencatat, kerugian negara akibat rokok ilegal mencapai triliunan rupiah per tahun. Ironisnya, kerugian itu sebanding dengan gaya hidup mewah para pemain rokok ilegal yang terus menumpuk kekayaan.
“Negara tekor, masyarakat tidak dapat apa-apa, tapi para mafia rokok ilegal hidup bergelimang harta. Inilah potret bobroknya penegakan hukum di negeri ini,” pungkas Hasyim.
Kini, semua mata tertuju pada Satgas BKC Ilegal. Apakah mereka berani menyentuh Masterclass milik Munaji, atau justru membiarkan produk ilegal itu terus beredar?
“Kalau Masterclass saja tidak bisa disentuh, berarti Satgas BKC Ilegal itu hanya macan ompong. Negara ini sudah benar-benar kalah oleh mafia,” tutup Farid.








