SUMENEP, Newsline.id – Proyek Irigasi Air Tanah Dalam yang dibangun untuk mendukung sektor pertanian di Desa Karduluk, Kecamatan Pragaan, Kabupaten Sumenep, diduga gagal berfungsi sejak rampung dan diresmikan pada 2024 lalu. Fasilitas tersebut sedianya diperuntukkan bagi Kelompok Tani (Poktan) Prima Tani, namun hingga pertengahan 2025, belum satu tetes air pun mengalir ke lahan pertanian warga.
Ketidakberfungsian proyek ini memicu kritik tajam dari sejumlah aktivis lokal. Salah satunya datang dari Irwan Fahmi, yang menilai pembangunan tersebut sebagai contoh konkret pemborosan anggaran negara. Ia menyoroti fakta bahwa proyek dengan sumber dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) itu hingga kini tidak memberikan dampak berarti bagi petani.
“Ini proyek yang hanya bagus di atas kertas. Sudah diresmikan sejak tahun lalu, tapi nyatanya tidak pernah beroperasi. Apa gunanya fasilitas yang tidak bisa digunakan?” kata Irwan Fahmi, kepada Newsline.id.
Menurutnya, pemerintah pusat maupun daerah mesti mengevaluasi menyeluruh setiap proyek pembangunan, khususnya yang menyangkut sektor vital seperti pertanian.
“Kalau begini caranya, petani tetap miskin, lahan tetap kering, dan uang negara melayang tanpa hasil,” tegasnya.
Ia pun menilai lemahnya pengawasan dan kurangnya keterlibatan aktif pemerintah desa sebagai penyebab utama gagalnya proyek ini. Irwan juga mempertanyakan proses pengawasan selama pengerjaan proyek.
“Pemerintah desa seolah hanya jadi penonton. Padahal mereka yang paling tahu kondisi lapangan. Ketika proyek gagal, tidak ada satu pun pejabat yang bicara. Ini memalukan,” ujarnya geram.
Lebih jauh, Irwan mendesak agar inspektorat dan aparat penegak hukum segera turun tangan. Ia menilai ada indikasi kuat penyimpangan dalam proses pembangunan yang harus diusut secara terbuka.
“Kami menduga kuat ada ketidakwajaran dalam prosesnya. Entah dari sisi anggaran, pelaksana, atau mutu pekerjaan. Ini harus diaudit secara menyeluruh,” tegasnya lagi.
Sorotan juga diarahkan kepada Kepala Desa Karduluk, Achmad Faruk, yang hingga kini belum memberikan pernyataan resmi terkait kondisi proyek tersebut. Warga menyayangkan tidak adanya penjelasan atau inisiatif dari pemerintah desa untuk memperjuangkan fungsi irigasi yang sangat dibutuhkan masyarakat tani.
Seorang warga setempat yang enggan disebut namanya menuturkan bahwa selama ini petani di Karduluk masih menggantungkan irigasi dari sumber air tradisional dan menyesuaikan musim.
“Kita hanya bisa mengandalkan hujan. Irigasi yang katanya modern ini hanya jadi pajangan,” ucapnya.
Kondisi ini semakin memperpanjang daftar proyek infrastruktur pertanian di Kabupaten Sumenep yang tak sesuai harapan. Wacana swasembada dan peningkatan produktivitas pertanian hanya menjadi retorika jika tidak dibarengi dengan implementasi nyata dan pengawasan yang ketat.
Hingga berita ini diterbitkan, pihak Dinas Pertanian dan instansi pelaksana proyek belum memberikan keterangan. Sementara masyarakat setempat berharap ada langkah tegas dari lembaga terkait untuk membongkar duduk perkara proyek yang kini justru jadi simbol kegagalan pembangunan itu.








