Antara Sumpah dan Cinta

Tuesday, 28 October 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Rudy Kurniawan

OPINI, Newsline.id — Dalam kehidupan manusia, ada dua hal yang tak pernah lepas dari makna tanggung jawab dan kesetiaan: sumpah dan cinta. Dua kata sederhana, namun keduanya memiliki kekuatan besar dalam menentukan arah hidup, sikap, dan bahkan martabat seseorang.

Sumpah adalah bentuk janji yang diucapkan dengan kesadaran penuh. Ia bukan sekadar rangkaian kata di atas teks seremonial, melainkan komitmen spiritual di hadapan Tuhan dan sesama. Sementara cinta, adalah daya yang menggerakkan hati untuk memberi makna pada setiap pengabdian.

Ketika keduanya berpadu, hidup menjadi bermartabat. Tapi ketika terpisah, sumpah kehilangan ruhnya dan cinta kehilangan arah.

Dalam kehidupan publik, banyak sumpah diucapkan tanpa makna. Pejabat bersumpah akan jujur, pemimpin bersumpah akan adil, guru bersumpah akan mengabdi. Namun realitas berkata lain—banyak sumpah yang mati muda, terkubur oleh kepentingan pribadi dan cinta palsu kepada kekuasaan.

Baca Juga  Jangan Tergesa Menyalahkan, Saatnya Bersikap Adil pada Pemdes Paseyan

Sebaliknya, cinta tanpa sumpah juga bisa menyesatkan. Banyak orang mengatasnamakan cinta untuk mengkhianati janji, menabrak norma, bahkan merusak tatanan. Cinta yang tak disertai sumpah hanyalah gejolak sesaat, tanpa arah dan tanpa tanggung jawab.

“Sumpah tanpa cinta melahirkan kepalsuan, cinta tanpa sumpah menumbuhkan kekacauan.”

Dalam kehidupan berbangsa, sumpah dan cinta seharusnya menjadi satu napas. Kita bersumpah setia pada Pancasila, pada rakyat, pada keadilan sosial. Tapi sejauh mana kita benar-benar mencintai negeri ini? Sejauh mana pemimpin mencintai rakyatnya, bukan hanya jabatan yang melekat padanya?

Krisis moral sering kali berakar dari putusnya hubungan antara sumpah dan cinta. Ketika sumpah hanya menjadi formalitas, dan cinta hanya menjadi alat politik, maka yang lahir adalah kemunafikan sosial. Masyarakat kehilangan teladan, bangsa kehilangan arah.

Baca Juga  Elegi Daun Emas: Menakar Keadilan di Atas Tanah Bragung

Yang kita butuhkan hari ini adalah kesadaran baru: meneguhkan sumpah dengan cinta, dan menghidupkan cinta dengan sumpah. Cinta tanpa sumpah akan liar, sumpah tanpa cinta akan kaku.

Keduanya harus saling menghidupi. Karena cinta yang berpijak pada sumpah melahirkan keikhlasan, dan sumpah yang dijaga oleh cinta melahirkan keadilan.

Pada akhirnya, manusia yang berharga bukanlah yang banyak bersumpah, tetapi yang menepatinya dengan cinta. Sebab, di antara sumpah dan cinta, di situlah nurani diuji dan kemanusiaan menemukan maknanya.

Berita Terkait

Sumenep Kepulauan: Mengganti Nama atau Mengganti Nasib?
Negara Tidak Boleh Membiarkan Penilaian Tembakau Hanya Berdasarkan “Insting”
Polresta Sumenep: Pangkat Naik, Pintu Informasi Turun
Dilema Tafsir Kepemimpinan Politik Vs Kepemimpinan Birokrasi
APHT Guluk-Guluk: Di Balik Gedung-Gedung yang Tumbuh, Keadilan Perlahan Layu
Keunggulan Kuliah di Program Studi PGPAUD Universitas PGRI Sumenep dan Peluang Kerja di Masa Depan
Elegi Daun Emas: Menakar Keadilan di Atas Tanah Bragung
Menatap Pendidikan Kepulauan: Catatan Kritis dari Beranda KOPRI Komisariat UNIJA
Berita ini 41 kali dibaca

Berita Terkait

Monday, 3 August 2026 - 22:03

Sumenep Kepulauan: Mengganti Nama atau Mengganti Nasib?

Monday, 27 July 2026 - 20:53

Negara Tidak Boleh Membiarkan Penilaian Tembakau Hanya Berdasarkan “Insting”

Saturday, 18 July 2026 - 11:04

Polresta Sumenep: Pangkat Naik, Pintu Informasi Turun

Thursday, 16 July 2026 - 23:14

Dilema Tafsir Kepemimpinan Politik Vs Kepemimpinan Birokrasi

Wednesday, 8 July 2026 - 10:00

APHT Guluk-Guluk: Di Balik Gedung-Gedung yang Tumbuh, Keadilan Perlahan Layu

Berita Terbaru