SUMENEP, Newsline.id — Kekecewaan warga Dusun Serseran, Desa Talang, Kecamatan Saronggi, Kabupaten Sumenep, kian memuncak. Setelah bertahun-tahun menanti perhatian pemerintah desa, masyarakat akhirnya memilih bergerak sendiri dengan memperbaiki jalan poros menuju dusun mereka secara swadaya.
Jalan yang diperbaiki tersebut merupakan akses utama warga untuk menjalankan aktivitas ekonomi, pendidikan, hingga layanan kesehatan. Namun kondisinya selama ini dikeluhkan rusak parah, berlubang, licin saat hujan, dan sulit dilalui kendaraan. Warga menilai, akses vital itu sudah lama tak layak dilewati.
Salah satu warga Dusun Serseran, AJ, mengatakan aksi gotong royong tersebut lahir dari rasa kecewa yang telah lama dipendam masyarakat.
“Ini jalan poros, tapi sudah bertahun-tahun dibiarkan rusak tanpa perhatian serius dari pemerintah desa. Kami terpaksa memperbaiki sendiri karena terlalu lama diabaikan,” ujarnya di sela kegiatan perbaikan jalan.
Menurut AJ, kerusakan jalan bukan hanya mengganggu kenyamanan, tetapi juga berdampak langsung pada keselamatan warga. Saat musim hujan, jalan berubah licin dan berlumpur, sehingga rawan kecelakaan dan menyulitkan mobilitas warga.
Aksi swadaya ini sekaligus menjadi simbol kekecewaan warga terhadap kinerja Kepala Desa Talang yang dinilai tidak responsif terhadap kebutuhan dasar masyarakat. Warga mempertanyakan komitmen pemerintah desa dalam mengelola pembangunan yang seharusnya berpihak pada kepentingan rakyat.
“Setiap tahun ada Dana Desa. Tapi kami bertanya-tanya, ke mana arah pembangunan desa selama ini? Mengapa jalan utama menuju Dusun Serseran selalu luput dari perhatian?” tambah AJ.
Berdasarkan data anggaran, Dana Desa Talang pada tahun anggaran berjalan mencapai Rp1.241.917.000. Angka tersebut dinilai warga cukup besar untuk membiayai perbaikan infrastruktur dasar, khususnya jalan poros desa yang menjadi urat nadi aktivitas masyarakat Dusun Serseran.
Warga menilai, pembangunan jalan desa seharusnya menjadi prioritas utama pemerintah desa karena menyangkut kepentingan banyak orang. Mereka juga menuntut transparansi penggunaan Dana Desa agar masyarakat mengetahui secara jelas peruntukan dan realisasi anggaran.
“Gotong royong ini bukan karena kami mampu secara finansial, tapi karena keadaan memaksa. Kalau pemerintah desa hadir dan menjalankan fungsinya dengan baik, kami tidak perlu turun tangan seperti ini,” tegas AJ.
Masyarakat berharap aksi swadaya tersebut menjadi tamparan moral bagi pemerintah desa agar lebih adil, transparan, dan responsif terhadap kebutuhan riil warga. Mereka juga mendesak adanya evaluasi serius terhadap arah pembangunan Desa Talang agar tidak terus mengabaikan dusun-dusun pinggiran.
Hingga berita ini diturunkan, upaya konfirmasi ke Kepala Desa Talang masih dalam kesulitan.
Penulis : T2
Editor : R IE Q








