Teks Tanpa Jiwa: Refleksi Atas Kekerasan Seksual Di Lingkungan Lembaga Pendidikan

Tuesday, 2 June 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Mabruroh, (aktivis perempuan HMI insan cita)

OPINI, Newsline.id – Lembaga pendidikan, dalam imajinasi kolektif masyarakat Indonesia, adalah tempat suci. Ia bukan sekadar ruang belajar; ia adalah ruang pembentukan karakter, benteng moral, dan miniatur peradaban Islam yang diidam-idamkan. Namun belakangan, imajinasi itu retak bahkan runtuh, ketika kasus demi kasus pelecehan seksual terjadi dilingkungan pendidikan mencuat ke permukaan.

Yang lebih menyayat bukan hanya tindak kejinya, melainkan betapa lamanya kasus tertutup dengan intimidasi yang bermacam-macam, seolah-olah bisu di hadapan peci dan sorban. Ini menjadi pandangan serius terhadap eksistensi tokoh-tokoh agama yang sejatinya menjadi panutan utama dalam masyarakat desa pada khususnya.

Dalam praktiknya sedikit banyak ajaran islam yang menjadi pondasi utama kerap kali tidak berorientasikan pada kebenaran, hal ini lebih terkhusus pada oknum-oknum yang kurang memahami apa itu makna ajaran islam yang sebenarnya. Sehingga hukum islam pun tak jarang dijadikan alat legitimasi oleh pelaku tafsir yang dipilih-pilih, relasi guru-murid yang disakralkan, hingga konstruksi ‘keikhlasan’ yang menyesatkan.

Baca Juga  Napak Tilas Perjuangan dan Tantangan Reaktualisasi Peran HMI pada Usia ke-79 Tahun

Akibatnya, keduanya berubah menjadi sekadar teks: indah di atas kertas, tumpul di hadapan realita. Budaya tawadhu’ dan ta’dzim kepada Guru bukan sekedar bentuk sopan santun tapi menjadi suatu keharusan dalam mendapat keberkahan ilmu dunia akhirat.

Namun hal tersebut berbanding terbalik ketika oknum menjadikan hal yang menjadi keharusan santri bermetamorfosis menjadi struktur ketundukan total yang menutup ruang bagi korban untuk bersuara. Inilah yang disebut sebagai grooming berbasis otoritas keagamaan, sebuah kejahatan yang paling sulit diadili bukan karena kurangnya bukti, melainkan karena korbanlah yang pertama kali meragukan dirinya sendiri.

Negara pun melindungi perempuan dan anak dalam hal-hal kekerasan, baik yang terjadi secara verbal maupun yang berbasis relasi kuasa. Ini sebagai bukti bahwa betapa pentinganya keadilan terhadap perempuan dan anak yang sering kali mendapat perlakuan victim blaming terhadap kasus yang menimpanya. Namun ketakutan korban dirasakan terhadap intimidasi yang didapatkan. Akibatnya banyak rintihan hati yang terkubur dalam perlakuan keji yang dialami.

Baca Juga  Warga Pertanyakan Transparansi Penggunaan Dana Desa Rp 3,2 Miliar di Desa Gadding, Kecamatan Manding

Hal ini menjadi refleksi bagi kita semua betapa pentingnya memahami, mengamalkan dan mengajarkan suatu ilmu dalam dunia nyata bukan hanya mengumpulkan teks tanpa menyerap maknanya. Karena sudah saatnya kita berhenti memuja teks dan mulai menghidupkan jiwa di baliknya: jiwa keadilan, jiwa perlindungan, dan jiwa keberanian untuk memanggil kejahatan dengan namanya sekalipun pelakunya berpeci dan bersorban.

Karena di hadapan Tuhan, tidak ada satu pun pakaian yang bisa menyembunyikan dosa.

Editor : Red

Berita Terkait

Proyek Paving di Dusun Reng Perreng, Karduluk Dikerjakan 2024, Tapi Dipasang Papan Nama Tahun 2025
Warga Pertanyakan Transparansi Penggunaan Dana Desa Rp 3,2 Miliar di Desa Gadding, Kecamatan Manding
Film “Jalan Pulang”: Cinta Seorang Ibu Diterpa Kengerian Gaib
Pemerintah Perketat Pengawasan Lima Perusahaan Tambang di Raja Ampat
Survei Indikator Politik Indonesia: Kepuasan Tinggi Warga pada Polisi Berantas Premanisme
Polri Bongkar Penyelundupan 192 kg Sabu, Jaringan Internasional: Begini kata Komisi III DPR RI.
Progres Bedah Rumah Tidak Layak Huni Pada TMMD ke-123 Kodim Tabanan
Jelang Nyepi & bulan suci Ramadan, Polsek Seltim tingkatkan patroli subuh
Berita ini 1 kali dibaca

Berita Terkait

Tuesday, 2 June 2026 - 11:17

Teks Tanpa Jiwa: Refleksi Atas Kekerasan Seksual Di Lingkungan Lembaga Pendidikan

Monday, 4 August 2025 - 17:22

Proyek Paving di Dusun Reng Perreng, Karduluk Dikerjakan 2024, Tapi Dipasang Papan Nama Tahun 2025

Sunday, 3 August 2025 - 22:44

Warga Pertanyakan Transparansi Penggunaan Dana Desa Rp 3,2 Miliar di Desa Gadding, Kecamatan Manding

Saturday, 28 June 2025 - 22:40

Film “Jalan Pulang”: Cinta Seorang Ibu Diterpa Kengerian Gaib

Tuesday, 10 June 2025 - 16:14

Pemerintah Perketat Pengawasan Lima Perusahaan Tambang di Raja Ampat

Berita Terbaru