JAKARTA, Newsline.id — Revisi proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2026 oleh Bank Dunia menjadi 4,7 persen menuai perhatian dari kalangan legislatif. Penyesuaian ini dinilai sebagai refleksi meningkatnya tekanan global yang berpotensi memengaruhi stabilitas ekonomi nasional.
Anggota Komisi XI DPR RI, Eric Hermawan, menyatakan bahwa proyeksi tersebut tidak bisa dilihat secara parsial. Ia menekankan pentingnya membaca kondisi ekonomi Indonesia dengan pendekatan yang lebih komprehensif, terutama dengan mempertimbangkan karakteristik domestik yang kuat.
Menurut Eric, lembaga internasional seperti Bank Dunia cenderung menggunakan pendekatan berbasis agregat global. Hal ini, kata dia, berpotensi kurang mencerminkan kekuatan fundamental ekonomi Indonesia yang selama ini ditopang oleh konsumsi domestik.
“Struktur ekonomi kita berbeda. Konsumsi rumah tangga memiliki peran dominan dalam Produk Domestik Bruto, sehingga daya tahan terhadap guncangan eksternal relatif lebih baik,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Sabtu (11/4).
Ia menjelaskan, sejumlah indikator dalam negeri justru menunjukkan sinyal positif. Salah satunya adalah proyeksi pertumbuhan ekonomi pada triwulan pertama 2026 yang diperkirakan mampu menembus angka di atas 5,6 persen. Angka tersebut mencerminkan kuatnya permintaan domestik serta stabilitas sektor keuangan nasional.
Selain itu, belanja pemerintah yang tetap terjaga dinilai menjadi salah satu penopang utama pertumbuhan. Kombinasi faktor tersebut, lanjut Eric, menjadi bukti bahwa ekonomi Indonesia masih memiliki fondasi yang kokoh di tengah tekanan global.
Meski demikian, ia tidak menampik bahwa revisi proyeksi dari Bank Dunia tetap memiliki dampak terhadap persepsi pasar. Menurutnya, penyesuaian tersebut dapat memengaruhi ekspektasi investor, terutama dalam melihat risiko ekonomi ke depan.
“Persepsi pasar itu sangat sensitif. Ketika ada revisi dari lembaga internasional, tentu akan berpengaruh terhadap sentimen investor,” katanya.
Untuk itu, Eric mendorong pemerintah agar memperkuat strategi komunikasi kebijakan ekonomi. Ia menilai, penyampaian informasi yang berbasis data dan transparan menjadi kunci dalam menjaga kepercayaan pasar.
“Pemerintah harus memastikan bahwa setiap narasi ekonomi didukung oleh data yang kuat dan indikator yang terukur. Ini penting untuk menjaga kredibilitas dan stabilitas makroekonomi,” tegasnya.
Lebih lanjut, ia menilai bahwa koordinasi antar lembaga juga harus diperkuat, terutama dalam merespons dinamika global yang semakin tidak menentu. Dengan langkah yang terukur, ia optimistis Indonesia mampu menjaga momentum pertumbuhan ekonomi secara berkelanjutan.
Di tengah ketidakpastian global, sikap optimistis namun tetap waspada dinilai menjadi kunci. Pemerintah diharapkan tidak hanya fokus pada faktor eksternal, tetapi juga terus memperkuat sektor domestik sebagai penopang utama ekonomi nasional.
Dengan demikian, meskipun proyeksi pertumbuhan mengalami koreksi, peluang untuk menjaga stabilitas dan pertumbuhan ekonomi tetap terbuka lebar, selama kebijakan yang diambil tepat sasaran dan berbasis pada kekuatan fundamental dalam negeri.
Penulis : Red
Editor : MTAB








