Program Makan Bergizi di Sumenep Dinilai Gagal Sentuh Hakikat Gizi, Menu Pindang dan Tempe Tuai Kritik Wali Murid

Thursday, 30 October 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

SUMENEP, Newsline.id – Harapan agar anak-anak sekolah dasar di Kabupaten Sumenep mendapatkan asupan bergizi melalui program Makan Bergizi (MBG) kembali kandas di lapangan. Ironi ini mencuat setelah menu makan siang di SDN Pabian IV hanya berisi ikan pindang kecil dan sepotong tempe goreng, Kamis (30/10/2025).

Alih-alih meningkatkan asupan nutrisi, sajian itu justru menimbulkan rasa iba dan protes dari kalangan wali murid.

“Saya benar-benar kecewa, Mas. Anak saya dikasih makan cuma pindang kecil sama tempe. Katanya untuk bergizi, tapi kelihatannya malah menyedihkan,”ujar L, salah satu wali murid dengan nada kesal.

Menurutnya, sebagian besar siswa di kelas I dan II bahkan enggan menyentuh menu makan siang tersebut. Mereka memilih membawa pulang lauknya karena tak sanggup memakan di sekolah.

“Anak saya bawa pulang makanannya. Katanya gak enak. Saya dengar malah di sekolah lain gak boleh dibawa pulang, harus dihabiskan di tempat. Tapi ya mau bagaimana, wong tampilannya aja bikin gak selera,” imbuhnya dengan nada kecewa.

Fenomena ini bukan kejadian pertama. Beberapa waktu lalu, menu MBG di sekolah yang sama juga sempat viral karena menyajikan ayam keras seperti batu dan pisang yang sudah busuk. Meski sudah menuai sorotan publik kala itu, tampaknya perbaikan belum dilakukan secara serius.

Baca Juga  Kasus Dugaan Foto Mesum Kepala Desa Di Kecamatan Dungkek, Publik Tantang Ketegasan Bupati Sumenep

Seorang wali murid dari sekolah dasar lain di Kecamatan Kota Sumenep juga mengeluhkan hal yang sama. Ia menyebut, kualitas makanan yang disajikan kembali menurun.

“Kok bisa-bisanya kambuh lagi? Harusnya mereka belajar dari kasus sebelumnya. Ini malah ikannya bau dan gak layak,” katanya kepada Newsline.id, Kamis sore.

Kondisi ini menimbulkan tanda tanya besar: di mana fungsi pengawasan dan pengecekan kelayakan makanan sebelum dibagikan ke anak-anak sekolah dasar yang notabene masih dalam usia tumbuh kembang?

Salah satu guru SDN Pabian IV, Muhammad Rofik, mengaku telah mengingatkan penyelenggara agar tidak sembarangan dalam menyiapkan menu MBG.

“Anak-anak bukan bahan percobaan. Kalau mau kasih makanan, harus dicicipi dulu. Kalau layak, silakan dibagikan. Kalau tidak layak, jangan dipaksakan,”tegasnya kepada media.

Rofik menambahkan, meski sebagian siswa di kelas VI masih mau memakan lauk ikan pindang, banyak dari mereka yang tampak tidak menikmatinya.

“Di kelas saya ada yang makan, tapi sebagian besar bilang gak suka karena amis,” katanya.

Program Makan Bergizi (MBG) sejatinya digagas sebagai bagian dari upaya pemerintah daerah untuk menekan angka stunting dan memperbaiki ketahanan gizi anak sekolah. Namun, pelaksanaannya di lapangan sering kali terjebak pada rutinitas administratif tanpa memperhatikan esensi “bergizi” itu sendiri.

Baca Juga  BPRS Bhakti Sumekar Gandeng Bank Muamalat Perkuat Layanan Digital Syariah Daerah

Sejumlah kalangan menilai, jika pengawasan tidak diperketat dan standar menu tidak dievaluasi, maka program ini hanya akan menjadi kegiatan formalitas yang tidak berdampak nyata bagi kesehatan siswa.

“Kalau cuma untuk menggugurkan kewajiban anggaran, ya sama saja bohong. Anak-anak bukan sekadar penerima program, mereka calon masa depan bangsa,”tutur salah satu pemerhati pendidikan di Sumenep yang enggan disebutkan namanya.

Hingga berita ini diterbitkan, Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) wilayah setempat belum memberikan keterangan resmi terkait kualitas menu MBG yang dikeluhkan para orang tua.

Kejadian ini menggugah kesadaran publik bahwa “bergizi” bukan sekadar tentang adanya nasi, ikan, atau tempe di piring anak sekolah, tetapi tentang mutu bahan, kebersihan, dan keseimbangan gizi yang dikandung.

Masyarakat berharap pemerintah daerah, khususnya Dinas Pendidikan dan Dinas Kesehatan, turun langsung meninjau kondisi dapur penyedia makanan serta memastikan standar kelayakan pangan benar-benar diterapkan.

Jika tidak, program Makan Bergizi akan terus menjadi simbol kegagalan pemerintah dalam mengelola niat baik menjadi kebijakan yang bermartabat. Anak-anak Sumenep tidak membutuhkan sekadar “program”, mereka membutuhkan makanan yang benar-benar menyehatkan.

Penulis : T2

Editor : R IE Q

Berita Terkait

MYZE Hotel Sumenep Hadirkan Menu “Rebellious Hunger”, Dorong Tren Kuliner Berkelanjutan di Madura
Kids Atletik Getarkan Lapangan Armada, FKG PJOK Dasuk Siapkan Bibit Juara O2SN
Halal Bihalal dan Haul Majmuk Ponpes Al Usymuni Berlangsung Khidmat di Batang-Batang Sumenep
Dinilai Framing Negatif, Tempo Didesak Klarifikasi oleh Kader NasDem Sumenep
Aktivis Sumenep Siap Demo BPN, Soroti Tanah Mangrove dan Polemik Tanah KDMP Kebun Dadap Timur
DRT The Big Family Rilis Dua SKT Baru di Arena Kerapan Sapi, Perkuat Identitas Kretek Madura
Humanis di Jalan, Polantas Sumenep Sapa Pengendara dan Edukasi Keselamatan
Polres Sumenep Dikepung Pertanyaan, Rilis Kokain Besar Tiba-Tiba Dibatalkan
Berita ini 14 kali dibaca

Berita Terkait

Friday, 17 April 2026 - 12:47

MYZE Hotel Sumenep Hadirkan Menu “Rebellious Hunger”, Dorong Tren Kuliner Berkelanjutan di Madura

Friday, 17 April 2026 - 09:19

Kids Atletik Getarkan Lapangan Armada, FKG PJOK Dasuk Siapkan Bibit Juara O2SN

Thursday, 16 April 2026 - 00:40

Halal Bihalal dan Haul Majmuk Ponpes Al Usymuni Berlangsung Khidmat di Batang-Batang Sumenep

Wednesday, 15 April 2026 - 16:59

Dinilai Framing Negatif, Tempo Didesak Klarifikasi oleh Kader NasDem Sumenep

Wednesday, 15 April 2026 - 13:42

Aktivis Sumenep Siap Demo BPN, Soroti Tanah Mangrove dan Polemik Tanah KDMP Kebun Dadap Timur

Berita Terbaru