SUMENEP, Newsline.id – Harapan agar anak-anak sekolah dasar di Kabupaten Sumenep mendapatkan asupan bergizi melalui program Makan Bergizi (MBG) kembali kandas di lapangan. Ironi ini mencuat setelah menu makan siang di SDN Pabian IV hanya berisi ikan pindang kecil dan sepotong tempe goreng, Kamis (30/10/2025).
Alih-alih meningkatkan asupan nutrisi, sajian itu justru menimbulkan rasa iba dan protes dari kalangan wali murid.
“Saya benar-benar kecewa, Mas. Anak saya dikasih makan cuma pindang kecil sama tempe. Katanya untuk bergizi, tapi kelihatannya malah menyedihkan,”ujar L, salah satu wali murid dengan nada kesal.
Menurutnya, sebagian besar siswa di kelas I dan II bahkan enggan menyentuh menu makan siang tersebut. Mereka memilih membawa pulang lauknya karena tak sanggup memakan di sekolah.
“Anak saya bawa pulang makanannya. Katanya gak enak. Saya dengar malah di sekolah lain gak boleh dibawa pulang, harus dihabiskan di tempat. Tapi ya mau bagaimana, wong tampilannya aja bikin gak selera,” imbuhnya dengan nada kecewa.
Fenomena ini bukan kejadian pertama. Beberapa waktu lalu, menu MBG di sekolah yang sama juga sempat viral karena menyajikan ayam keras seperti batu dan pisang yang sudah busuk. Meski sudah menuai sorotan publik kala itu, tampaknya perbaikan belum dilakukan secara serius.
Seorang wali murid dari sekolah dasar lain di Kecamatan Kota Sumenep juga mengeluhkan hal yang sama. Ia menyebut, kualitas makanan yang disajikan kembali menurun.
“Kok bisa-bisanya kambuh lagi? Harusnya mereka belajar dari kasus sebelumnya. Ini malah ikannya bau dan gak layak,” katanya kepada Newsline.id, Kamis sore.
Kondisi ini menimbulkan tanda tanya besar: di mana fungsi pengawasan dan pengecekan kelayakan makanan sebelum dibagikan ke anak-anak sekolah dasar yang notabene masih dalam usia tumbuh kembang?
Salah satu guru SDN Pabian IV, Muhammad Rofik, mengaku telah mengingatkan penyelenggara agar tidak sembarangan dalam menyiapkan menu MBG.
“Anak-anak bukan bahan percobaan. Kalau mau kasih makanan, harus dicicipi dulu. Kalau layak, silakan dibagikan. Kalau tidak layak, jangan dipaksakan,”tegasnya kepada media.
Rofik menambahkan, meski sebagian siswa di kelas VI masih mau memakan lauk ikan pindang, banyak dari mereka yang tampak tidak menikmatinya.
“Di kelas saya ada yang makan, tapi sebagian besar bilang gak suka karena amis,” katanya.
Program Makan Bergizi (MBG) sejatinya digagas sebagai bagian dari upaya pemerintah daerah untuk menekan angka stunting dan memperbaiki ketahanan gizi anak sekolah. Namun, pelaksanaannya di lapangan sering kali terjebak pada rutinitas administratif tanpa memperhatikan esensi “bergizi” itu sendiri.
Sejumlah kalangan menilai, jika pengawasan tidak diperketat dan standar menu tidak dievaluasi, maka program ini hanya akan menjadi kegiatan formalitas yang tidak berdampak nyata bagi kesehatan siswa.
“Kalau cuma untuk menggugurkan kewajiban anggaran, ya sama saja bohong. Anak-anak bukan sekadar penerima program, mereka calon masa depan bangsa,”tutur salah satu pemerhati pendidikan di Sumenep yang enggan disebutkan namanya.
Hingga berita ini diterbitkan, Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) wilayah setempat belum memberikan keterangan resmi terkait kualitas menu MBG yang dikeluhkan para orang tua.
Kejadian ini menggugah kesadaran publik bahwa “bergizi” bukan sekadar tentang adanya nasi, ikan, atau tempe di piring anak sekolah, tetapi tentang mutu bahan, kebersihan, dan keseimbangan gizi yang dikandung.
Masyarakat berharap pemerintah daerah, khususnya Dinas Pendidikan dan Dinas Kesehatan, turun langsung meninjau kondisi dapur penyedia makanan serta memastikan standar kelayakan pangan benar-benar diterapkan.
Jika tidak, program Makan Bergizi akan terus menjadi simbol kegagalan pemerintah dalam mengelola niat baik menjadi kebijakan yang bermartabat. Anak-anak Sumenep tidak membutuhkan sekadar “program”, mereka membutuhkan makanan yang benar-benar menyehatkan.
Penulis : T2
Editor : R IE Q








