Negeri yang Aman Selama Angkanya Kecil

Wednesday, 17 December 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Moch Thoriqil Akmal, S.H

OPINI, Newsline.id – Di negeri ini, hidup manusia sering kali direduksi menjadi grafik batang dan persentase. Selama angkanya kecil, semuanya baik-baik saja. Selama tidak mencapai dua digit, penderitaan boleh ditunda untuk diseriusi.

Kasus MBG keracunan? Tenang. “Hanya sekian persen.”

Banjir di Sumatra? Santai. “Cuma tiga provinsi.”

Seolah-olah rasa mual, muntah, kehilangan rumah, dan tidur beralaskan air setinggi dada bisa dihibur dengan kalimat: “Angkanya masih aman.”

Barangkali, di ruang-ruang rapat ber-AC, penderitaan memang terasa lebih ringan jika disajikan dalam bentuk tabel. Tidak ada bau lumpur, tidak ada tangis anak, tidak ada ibu yang panik mencari obat. Yang ada hanya slide presentasi dan pointer laser merah yang menunjuk angka dingin, rapi, dan steril dari empati.

Baca Juga  Merdeka di Tiang Bendera

Statistik memang penting. Tapi masalahnya, statistik sering dipakai bukan untuk memahami masalah, melainkan untuk mengecilkannya. Bukan untuk menyelamatkan manusia, melainkan untuk menenangkan pejabat.

“Keracunan hanya sekian persen,” kata mereka.

Padahal bagi yang keracunan, itu seratus persen penderitaan. Tidak ada muntah setengah persen. Tidak ada sakit perut versi ringan karena statistiknya kecil.

“Banjir cuma di tiga provinsi,” ujar mereka lagi.

Seakan rumah yang tenggelam bisa mengapung sendiri karena jumlahnya tidak nasional. Seakan penderitaan harus merata dulu di seluruh Indonesia agar layak disebut bencana.

Di negeri statistik ini, barangkali manusia baru dianggap penting jika sudah viral, sudah trending, atau sudah mengganggu stabilitas citra. Kalau belum, ya sabar dulu. Tunggu persentasenya naik.

Ironisnya, angka selalu dipakai untuk membela kebijakan, bukan untuk membela korban. Ketika rakyat menderita, angka menjadi tameng. Tapi ketika klaim keberhasilan, angka mendadak dibesar-besarkan dengan penuh kebanggaan.

Baca Juga  Antara Sumpah dan Cinta

Kita hidup di zaman di mana empati kalah cepat dari kalkulator. Di mana nurani harus menunggu hasil rekapitulasi. Di mana penderitaan perlu diverifikasi dulu oleh data sebelum dianggap nyata.

Padahal hidup bukan soal statistik.

Air bah tidak menghitung provinsi.

Racun tidak peduli persentase.

Dan rasa sakit tidak pernah bertanya: “Apakah saya cukup banyak untuk diperhatikan?”

Jika hidup hanya sekadar angka, maka wajar bila kebijakan terasa dingin. Tapi jika negara lupa bahwa di balik setiap angka ada manusia, maka yang sedang krisis bukan datanya melainkan nuraninya.

Dan mungkin, di negeri ini, selama grafiknya stabil, hati memang tidak perlu ikut bergerak.

Berita Terkait

“TEMPO” Berjudi Di Madura
Asset Recovery with Due Process: Menakar Batas Kekuasaan Negara dalam RUU Perampasan Aset
Merdeka di Tiang Bendera
Merdeka di Bendera; Kemerdekaan yang Dirayakan, Keadilan yang Dipertanyakan
Kenapa Perempuan Menyerahkan Tubuhnya?
Sumenep Kepulauan: Mengganti Nama atau Mengganti Nasib?
Negara Tidak Boleh Membiarkan Penilaian Tembakau Hanya Berdasarkan “Insting”
Polresta Sumenep: Pangkat Naik, Pintu Informasi Turun
Berita ini 27 kali dibaca

Berita Terkait

Sunday, 13 September 2026 - 00:08

“TEMPO” Berjudi Di Madura

Sunday, 6 September 2026 - 19:02

Asset Recovery with Due Process: Menakar Batas Kekuasaan Negara dalam RUU Perampasan Aset

Monday, 17 August 2026 - 05:44

Merdeka di Tiang Bendera

Sunday, 16 August 2026 - 22:00

Merdeka di Bendera; Kemerdekaan yang Dirayakan, Keadilan yang Dipertanyakan

Friday, 14 August 2026 - 12:49

Kenapa Perempuan Menyerahkan Tubuhnya?

Berita Terbaru