SUMENEP, Newsline.id – Setelah lebih dari satu dekade tenggelam dari hiruk-pikuk panggung kesenian Madura, grup musik tong-tong legendaris asal Desa Legung Timur, Kecamatan Batang-Batang, Mega Remmeng, akhirnya kembali menorehkan sejarah. Pada Festival Musik Tong-Tong se-Madura 2025, mereka tampil memukau dan menegaskan bahwa legenda tak pernah benar-benar mati.
Kemunculan Mega Remmeng sontak menjadi sorotan utama. Ribuan penonton yang memadati arena festival menyambut dengan gegap gempita ketika grup asal timur Sumenep itu melintas dengan ciri khas lamanya dominasi warna hitam-putih, kuda terbang “Arya Kuda Panoleh”, serta aransemen musik yang megah dan sarat makna sejarah.
Bagi warga Madura, khususnya masyarakat Legung Timur, kehadiran kembali Mega Remmeng bukan sekadar nostalgia. Ia adalah bentuk kebangkitan budaya dan kebanggaan lokal yang sempat pudar.
“Rasanya seperti mimpi. Kami menunggu momen ini selama 12 tahun,” ujar Tohawi, warga Batang-Batang yang mengaku mengikuti perjalanan Mega Remmeng sejak remaja, Sabtu malam (18/10/2025).
Menurutnya, kemenangan atau kekalahan bukan hal utama. Yang terpenting, katanya, adalah semangat mereka untuk menghidupkan kembali kesenian tong-tong yang menjadi identitas masyarakat Madura.
“Mega Remmeng itu simbol perjuangan dan kebersamaan. Kami tidak peduli juara atau tidak, yang penting tampil. Karena setiap dentuman musiknya membawa kenangan dan kebanggaan bagi kami,” ujarnya.
Di balik megahnya penampilan itu, ada tangan-tangan seniman yang bekerja tanpa lelah. Salah satunya Mulyadi, perajin dekorasi yang sudah sejak awal menjadi bagian dari Mega Remmeng. Ia mengungkapkan, persiapan tahun ini memakan waktu panjang lebih dari satu tahun demi menjaga keaslian konsep yang sarat makna sejarah.
“Nama Mega Remmeng sendiri terinspirasi dari kisah kuda sakti tunggangan Arya Joko Tole, pahlawan kebanggaan Sumenep. Itu sebabnya simbol kuda terbang selalu menjadi ikon utama setiap penampilan kami,” jelasnya.
Namun Mulyadi tak menampik bahwa dekorasi tahun ini belum sepenuhnya rampung. Sekitar 70 persen dari konsep utuh masih dalam proses penyempurnaan akibat keterbatasan waktu.
“Kami didesak pendukung agar Mega Remmeng segera tampil kembali. Jadi yang penting bisa hadir dulu, nanti baru kami sempurnakan,” ujarnya sambil tersenyum.
Meski begitu, kerja keras itu terbayar lunas. Mega Remmeng berhasil memborong dua penghargaan bergengsi sekaligus: Dekorasi Terbaik dan Penyaji Terbaik pada Festival Musik Tong-Tong se-Madura 2025.
Capaian itu menjadi bukti bahwa semangat dan dedikasi mereka belum luntur meski sempat lama vakum.
“Kami hanya ingin membuktikan bahwa Mega Remmeng masih ada dan tetap menjaga marwah Sumenep di kancah musik tradisional Madura,” tutur Mulyadi.
Kembalinya Mega Remmeng juga menjadi penanda penting bagi regenerasi pelaku seni di Madura. Banyak seniman muda yang terinspirasi oleh keberanian mereka untuk bangkit setelah lama vakum.
Festival malam itu pun ditutup dengan suasana haru. Ribuan warga bersorak, sebagian menitikkan air mata, menyaksikan kuda terbang “Arya Kuda Panoleh” kembali melayang di bawah cahaya lampu sorot.
Bagi masyarakat Sumenep, kemenangan Mega Remmeng bukan sekadar prestasi kesenian. Ia adalah simbol kebangkitan jati diri dan cinta terhadap warisan budaya lokal.
Dan malam itu, di bawah langit Madura yang berkilau, legenda Mega Remmeng kembali menegaskan satu pesan abadi
“Legenda tak pernah mati. Ia hanya menunggu saatnya untuk kembali bersinar.”








