Kepala Desa Padike Bungkam Soal Proyek TPT Misterius, Warga Semakin Curiga

Saturday, 8 November 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

SUMENEP, Newsline.id – Dugaan kejanggalan proyek pembangunan Tembok Penahan Tanah (TPT) dan saluran air di Desa Padike, Kecamatan Talango, Kabupaten Sumenep, terus menjadi tanda tanya besar di tengah masyarakat. Setelah ramai diperbincangkan warga karena tidak memiliki papan nama dan dikerjakan asal-asalan, kini Kepala Desa Padike memilih bungkam dan enggan memberikan keterangan apapun kepada awak media.

Namun, ketika wartawan mencoba menghubungi Kepala Desa Padike melalui sambungan telepon dan pesan singkat, tidak ada respons sama sekali. Hingga berita ini diturunkan, Kades Padike belum memberikan klarifikasi terkait proyek yang kini jadi sorotan warga itu.

Sikap diam kepala desa ini justru menambah kecurigaan publik. Sejumlah warga menduga proyek tanpa papan nama itu berpotensi terkait penyimpangan anggaran, terutama jika dana yang digunakan bersumber dari keuangan desa atau bantuan pemerintah kabupaten.

“Kalau proyeknya resmi pasti ada papan nama. Tapi kalau diam begini, masyarakat jadi curiga. Jangan-jangan ada yang tidak beres,” ucap, salah satu warga Padike yang ditemui di lokasi proyek.

Pantauan lanjutan di lapangan menunjukkan, kondisi TPT yang baru selesai dibangun sebagian sudah mengalami keretakan. Bahkan, di beberapa sisi, material batu dan semen tampak tidak menyatu dengan kuat. Beberapa warga mengaku khawatir bangunan tersebut tidak akan bertahan lama jika hujan deras melanda wilayah mereka.

Baca Juga  Pria Asal Cirebon Ditemukan Meninggal di Kamar Kos Sumenep, Polisi Lakukan Penyelidikan

“Dikerjakan cepat sekali, Mas. Sehari pasang batu, besoknya sudah cor. Wajar kalau hasilnya begini,” ungkap warga lainnya.

Sementara itu, aktivis sosial asal Sumenep, Zainul, kembali menyoroti lemahnya pengawasan pemerintah terhadap proyek-proyek di tingkat desa. Ia menilai, proyek yang tidak dilengkapi papan nama dan informasi publik telah melanggar Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2010 dan Nomor 70 Tahun 2012 tentang Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah.

“Kalau tidak ada papan informasi, berarti ada niat menutupi sesuatu. Ini harus diselidiki oleh Inspektorat dan juga Dinas PMD. Jangan dibiarkan,” tegasnya.

Menurut Zainul, praktik semacam ini kerap terjadi di sejumlah desa, terutama di wilayah kepulauan seperti Talango, yang pengawasannya dinilai masih lemah. Ia mendesak agar pihak kabupaten melakukan audit terhadap semua proyek desa yang tidak transparan, termasuk di Desa Padike.

“Kadang proyek begitu bukan hanya soal kualitas, tapi soal siapa yang mengerjakan dan uangnya lewat mana. Kalau kepala desa diam saja, bisa jadi memang ada hal yang disembunyikan,” tandasnya.

Warga kini berharap pemerintah kabupaten, khususnya Inspektorat dan Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) Sumenep, segera turun tangan. Mereka mendesak agar dilakukan investigasi menyeluruh untuk memastikan apakah proyek TPT dan saluran air itu menggunakan dana desa, bantuan keuangan kabupaten, atau justru bersumber dari pihak lain.

Baca Juga  Parkiran Kos Al Marwah Milik H. Asmo di Atas Kali Kolor: Simbol Arogansi dan Matinya Wibawa Pemkab Sumenep

“Kalau memang proyek pemerintah, harus jelas. Kalau bukan, ya jelaskan juga. Jangan diam saja. Ini bukan proyek pribadi, tapi di wilayah publik,” ujar warga lainnya.

Hingga berita ini diterbitkan, belum ada pernyataan resmi dari pihak pemerintah desa maupun instansi terkait. Sementara bangunan TPT dan saluran air di Desa Padike tetap berdiri tanpa identitas jelas—tanpa papan nama, tanpa prasasti, dan tanpa kejelasan sumber anggaran.

Warga menegaskan akan terus memantau perkembangan proyek misterius tersebut. Mereka juga tidak menutup kemungkinan untuk melaporkan dugaan pelanggaran ini ke aparat penegak hukum jika dalam waktu dekat tidak ada kejelasan dari pihak pemerintah desa maupun kabupaten.

“Kalau tidak ada transparansi, nanti kami laporkan. Biar aparat turun langsung,” tegasnya.

Kasus proyek misterius di Desa Padike ini menjadi potret kecil dari lemahnya akuntabilitas dan pengawasan publik di tingkat desa. Padahal, di tengah meningkatnya anggaran pembangunan desa, transparansi adalah hal yang paling mendasar untuk menjaga kepercayaan masyarakat.

Penulis : T2

Editor : R IE Q

Berita Terkait

Eric Hermawan Kunjungi BPK RI, Dorong Pengawasan Keuangan Negara Lebih Akuntabel
Dr. Erliyati Ditunjuk Jadi Plt Direktur RSUD dr. H. Moh. Anwar Sumenep, Mulai Bertugas 21 September
Ajang Adu Prestasi dan Silaturahmi Atlet Voli Rayon Utara, Turnamen Bola Voli Brontak Cup 2026 Rayon 1 Digelar di Desa Bilangan
Polemik PPL Gadu Timur Berlanjut, “Muncul di Administrasi, Hilang di Lapangan”, Aktivis Desak BPS Panggil RF dan Buka Hasil Klarifikasi
MEC 2026 Angkat Tema Keraton Sumenep, Budaya Madura Dikemas Kreatif
Tiga Batang Pohon Dibawa ke Polresta Sumenep, Kasus Lisdes Batang-Batang Daya Masuk Tahap Pendalaman
Dari Urusan Perdagangan ke RSUD, Ketua AWDI Soroti Kompetensi Idham Halil
Kehilangan Sosok Setia di Tribun, Ahsanul Qosasi Beri Penghormatan untuk Mbah Hosen
Berita ini 28 kali dibaca

Berita Terkait

Sunday, 20 September 2026 - 19:42

Eric Hermawan Kunjungi BPK RI, Dorong Pengawasan Keuangan Negara Lebih Akuntabel

Sunday, 20 September 2026 - 18:57

Dr. Erliyati Ditunjuk Jadi Plt Direktur RSUD dr. H. Moh. Anwar Sumenep, Mulai Bertugas 21 September

Sunday, 20 September 2026 - 18:27

Ajang Adu Prestasi dan Silaturahmi Atlet Voli Rayon Utara, Turnamen Bola Voli Brontak Cup 2026 Rayon 1 Digelar di Desa Bilangan

Sunday, 20 September 2026 - 17:01

Polemik PPL Gadu Timur Berlanjut, “Muncul di Administrasi, Hilang di Lapangan”, Aktivis Desak BPS Panggil RF dan Buka Hasil Klarifikasi

Saturday, 19 September 2026 - 21:34

Tiga Batang Pohon Dibawa ke Polresta Sumenep, Kasus Lisdes Batang-Batang Daya Masuk Tahap Pendalaman

Berita Terbaru