Oleh: Moch Thoriqil Akmal B, S.H
Tanggal 5 Februari selalu datang dengan cara yang sama: spanduk hijau-hitam dipasang, logo HMI diperbesar, tema besar dipoles biasanya mengandung kata peradaban, keumatan, atau keindonesiaan.
Tahun ini, Himpunan Mahasiswa Islam genap berusia 79 tahun. Usia yang, jika manusia, sudah pantas duduk di teras rumah, menyeruput kopi pahit, dan bercerita tentang masa muda yang penuh idealisme.
Dan memang, HMI hari ini lebih sering bercerita tentang masa lalu dari pada ribut soal masa depan.
Didirikan tahun 1947, di tengah republik yang masih belajar berdiri, HMI lahir bukan sebagai organisasi yang jinak. Ia keras, kritis, dan—meminjam istilah lama—kurang ajar terhadap ketidakadilan. HMI bukan sekadar organisasi mahasiswa; ia adalah pabrik kader, bengkel gagasan, sekaligus dapur konflik intelektual. Debat bisa lebih panas dari kopi kantin, dan diskusi bisa berakhir tanpa kesimpulan tapi penuh kesadaran.
Sekarang? Diskusi masih ada. Tapi sering kali lebih mirip sesi nostalgia kolektif.
HMI pernah melahirkan pemikir, negarawan, aktivis, bahkan pembangkang. Dulu, kader HMI merasa bersalah jika terlalu lama diam. Sekarang, sebagian justru merasa aman ketika terlalu dekat dengan kekuasaan.
Dulu, kader diuji dengan bacaan; kini, sebagian diuji dengan kedekatan struktural. Dari insan cita menuju insan yang cita-citanya menyesuaikan situasi.
Ini tentu tidak berlaku untuk semua. Tapi cukup banyak untuk membuat HMI terlihat seperti organisasi yang mulai nyaman.
HMI yang dulu sibuk memproduksi gagasan, kini sibuk memproduksi alumni sukses. Ukuran keberhasilan organisasi sering kali direduksi menjadi: “itu menterinya kader HMI,” atau “itu bupatinya alumni HMI.” Seolah kualitas kaderisasi bisa diwakili oleh jumlah kursi, bukan oleh keberanian bersikap.
Padahal, sejarah HMI tidak dibangun dari kursi empuk, tapi dari bangku keras di sekretariat sempit, di diskusi yang berisik, di perdebatan yang membuat pulang dengan kepala panas tapi hati hidup.
Usia 79 tahun seharusnya bukan sekadar angka romantik. Ia adalah alarm. Alarm bahwa HMI sedang berada di persimpangan: tetap menjadi inkubator gagasan, atau perlahan berubah menjadi museum kenangan. Tempat orang datang bukan untuk berpikir, tapi untuk berfoto dengan masa lalu.
Ironisnya, di tengah krisis sosial ketimpangan ekonomi, degradasi demokrasi, komodifikasi pendidikan suara HMI justru sering terdengar pelan. Bukan karena tak mampu, tapi karena terlalu sibuk mengatur posisi. Padahal mahasiswa, sejak awal, ditakdirkan untuk tidak nyaman.
HMI pernah mengajarkan bahwa intelektual adalah mereka yang berpihak. Bukan netral, apalagi abu-abu. Tapi hari ini, keberpihakan sering dianggap risiko. Lebih aman bersikap “konstruktif,” istilah halus untuk tidak terlalu mengganggu.
Namun, harapan selalu punya cara untuk bertahan. Di sudut-sudut komisariat, masih ada kader yang membaca dengan sungguh-sungguh. Masih ada yang berdebat bukan demi panggung, tapi demi kebenaran. Masih ada yang gelisah melihat ketidakadilan, dan belum sepenuhnya berdamai dengan realitas.
Dies Natalis ke-79 ini seharusnya bukan perayaan kemenangan, tapi momentum bercermin. Apakah HMI masih menjadi organisasi mahasiswa, atau sudah terlalu cepat ingin menjadi organisasi alumni? Apakah nilai keislaman dan keindonesiaan masih hidup dalam praksis, atau tinggal slogan di spanduk?
HMI tidak perlu kembali ke masa lalu. Tapi ia perlu mengingat keberaniannya di masa lalu. Keberanian untuk berbeda, untuk melawan arus, untuk bersuara meski tidak diundang.
Karena jika HMI kehilangan daya kritisnya, ia tidak mati, ia hanya menjadi jinak. Dan organisasi mahasiswa yang jinak adalah kontradiksi.
Selamat Dies Natalis ke-79, HMI.
Semoga kau kembali ribut.
Kembali gelisah.
Kembali berani tidak nyaman.
Penulis : Red
Editor : MTAB








