Dangdut Academy 7 (2025): Ketika Nada Kalah oleh Nominal

Saturday, 27 December 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Moch Thoriqil Akmal, S.H

OPINI, Newsline.id – Dulu, dangdut adalah soal rasa. Soal napas yang ditarik pas, lengkingan yang tidak sekadar tinggi tapi berisi, dan cengkok yang lahir dari latihan panjang bukan dari saldo dompet. Dulu, panggung adalah tempat adu kualitas. Kini, pada musim 2025, panggung itu terasa berubah fungsi: seperti etalase digital tempat siapa paling royal, dialah yang paling “berbakat”.

Dangdut Academy 7 tahun ini seolah ingin memberi pelajaran ekonomi kreatif: bukan bagaimana menyanyi yang baik, melainkan bagaimana mengonversi uang menjadi tepuk tangan. Nada boleh fals, lirik boleh tercecer, tapi selama hujan virtual gift turun deras, jalan menuju juara terasa mulus. Musik, yang mestinya menjadi inti, malah jadi aksesori.

Ironinya, kita masih menyebutnya “kompetisi”. Padahal kompetisi biasanya menguji kualitas, proses, dan konsistensi. Di DA7 2025, yang diuji tampaknya adalah kekuatan jaringan dan ketebalan dompet. Siapa punya donatur setia entah keluarga, pengusaha lokal, atau simpatisan fanatik dialah yang unggul. Bukan karena suaranya menyentuh, melainkan karena transfernya menyentuh sistem.

Para peserta tentu bekerja keras. Mereka latihan, belajar, menahan gugup di balik lampu panggung. Tapi kerja keras itu sering terasa seperti lari maraton yang garis finisnya dipindah-pindah mengikuti jumlah gift. Pelatih memberi arahan teknik vokal, juri memberi catatan musikal, namun di luar itu ada kalkulator yang bekerja lebih keras: menghitung berapa koin masuk malam ini.

Baca Juga  LSM: Lapar Siang Malam

Kita pun diajak berpura-pura bahwa semua ini adalah “partisipasi penonton”. Dalihnya demokratis: penonton berhak menentukan. Padahal demokrasi tanpa batasan etika mudah berubah jadi oligarki digital. Satu orang kaya bisa menyamai ribuan suara tulus. Satu klik berbayar mengalahkan seribu apresiasi jujur. Dalam sistem seperti ini, kualitas vokal jadi variabel sekunder kalau bukan tersier.

Yang paling kasihan bukan hanya peserta, tapi makna pendidikan itu sendiri. Program ini katanya akademi tempat belajar, bertumbuh, dan diuji prosesnya. Namun proses menjadi kosmetik.

Didikan berubah menjadi latar belakang. Penilaian berubah dari telinga ke dompet. Dari teknik ke transaksi.

Paling pahitnya: kita tetap bertepuk tangan. Kita ikut menikmati dramanya. Kita ikut menghafal jargon “yang penting dukung idolamu”, seolah dukungan tak lagi berarti menyimak dan menilai, melainkan mengisi ulang saldo. Kita ikut merayakan peringkat, tanpa bertanya apakah peringkat itu lahir dari suara atau dari sumbangan.

Tentu, industri hiburan butuh uang. Produksi mahal, panggung megah, siaran langsung butuh biaya. Tapi ketika uang bukan lagi penopang, melainkan penentu, di situlah seni dikalahkan. Di situlah akademi berubah jadi marketplace. Penyanyi berubah jadi brand. Lagu berubah jadi landing page.

Baca Juga  Malam Nisfu Sya’ban: Antara Doa, Dosa, dan Kesempatan Pulang

Lucunya, kita masih mengutip “dangdut adalah musik rakyat”. Musik rakyat yang kini dimenangkan oleh segelintir rakyat dengan daya beli besar. Musik rakyat yang aksesnya terbuka, tapi kemenangannya berbayar. Rakyat yang lain cukup menonton, berkomentar, dan berharap sementara hasil akhir sudah ditentukan oleh notifikasi gift.

Jika ini terus dinormalisasi, jangan heran bila kelak audisi tak lagi menanyakan jangkauan vokal, melainkan jangkauan sponsor. Jangan kaget bila kurikulum latihan diganti: dari pemanasan pita suara ke pemanasan jaringan donatur. Dari latihan cengkok ke latihan pitching.

Masih adakah jalan keluar? Ada, kalau mau. Batasi pengaruh gift. Pisahkan hiburan interaktif dari penilaian inti. Kembalikan bobot ke kualitas, proses, dan evaluasi profesional. Biarkan penonton bersorak tanpa harus membayar hasil. Biarkan uang menopang panggung, bukan menentukan pemenang.

Sampai itu terjadi, DA7 2025 akan dikenang bukan sebagai musim dengan vokalis terbaik, melainkan musim dengan sponsor terkuat. Bukan tentang siapa paling merdu, melainkan siapa paling mampu. Dan di situlah ini berhenti menjadi lelucon karena yang kalah bukan hanya peserta, tapi juga makna dangdut itu sendiri.

Penulis : MTAB

Editor : Red

Berita Terkait

Sumenep Kepulauan: Mengganti Nama atau Mengganti Nasib?
Negara Tidak Boleh Membiarkan Penilaian Tembakau Hanya Berdasarkan “Insting”
Polresta Sumenep: Pangkat Naik, Pintu Informasi Turun
Dilema Tafsir Kepemimpinan Politik Vs Kepemimpinan Birokrasi
APHT Guluk-Guluk: Di Balik Gedung-Gedung yang Tumbuh, Keadilan Perlahan Layu
Keunggulan Kuliah di Program Studi PGPAUD Universitas PGRI Sumenep dan Peluang Kerja di Masa Depan
Elegi Daun Emas: Menakar Keadilan di Atas Tanah Bragung
Menatap Pendidikan Kepulauan: Catatan Kritis dari Beranda KOPRI Komisariat UNIJA
Berita ini 46 kali dibaca

Berita Terkait

Monday, 27 July 2026 - 20:53

Negara Tidak Boleh Membiarkan Penilaian Tembakau Hanya Berdasarkan “Insting”

Saturday, 18 July 2026 - 11:04

Polresta Sumenep: Pangkat Naik, Pintu Informasi Turun

Thursday, 16 July 2026 - 23:14

Dilema Tafsir Kepemimpinan Politik Vs Kepemimpinan Birokrasi

Wednesday, 8 July 2026 - 10:00

APHT Guluk-Guluk: Di Balik Gedung-Gedung yang Tumbuh, Keadilan Perlahan Layu

Tuesday, 7 July 2026 - 14:05

Keunggulan Kuliah di Program Studi PGPAUD Universitas PGRI Sumenep dan Peluang Kerja di Masa Depan

Berita Terbaru