PAMEKASAN, Newsline.id — Citra Partai Bulan Bintang kian terpuruk menyusul mencuatnya dugaan pesta minuman keras dan konsumsi narkoba yang melibatkan oknum Ketua Komisi II DPRD Pamekasan. Alih-alih menjadi representasi moral dan politik umat, partai berlambang bulan bintang itu justru “ditelanjangi” oleh ulah kadernya sendiri.
Kasus yang menyeret oknum berinisial SAF tersebut tidak lagi berhenti pada isu moral pribadi. Fakta-fakta yang mulai terkuak di ruang publik menunjukkan dugaan perbuatan berlapis: pesta miras, konsumsi obat-obatan terlarang, hingga lokasi kejadian yang disebut berada di gudang rokok ilegal tanpa pita cukai. Kombinasi ini memantik kemarahan publik sekaligus menimbulkan pertanyaan serius terhadap integritas partai dan fungsi pengawasan internalnya.
Sejumlah aktivis menilai, skandal ini adalah pukulan telak bagi PBB yang selama ini mengusung narasi politik berbasis nilai-nilai agama dan etika.
“Ini bukan sekadar oknum. Ini cermin gagalnya partai dalam melakukan kaderisasi dan pengawasan. PBB sedang dipermalukan oleh kadernya sendiri,” ujar Dedy salah satu aktivis.
Lebih jauh, publik menyoroti sikap PBB pusat yang hingga kini dinilai masih normatif dan terkesan lamban. Desakan agar partai segera mengambil langkah tegas mulai dari pemecatan, penonaktifan, hingga pelaporan ke aparat penegak hukum terus menguat.
Di sisi lain, lembaga legislatif daerah juga ikut terseret dalam pusaran krisis kepercayaan. DPRD Pamekasan dinilai kecolongan karena seorang pimpinan komisi strategis justru diduga terlibat praktik yang bertentangan dengan hukum dan etika jabatan publik. Badan Kehormatan DPRD didesak segera turun tangan dan membuka proses etik secara transparan.
“Kalau BK DPRD lamban, publik akan menilai ada upaya perlindungan terhadap pelaku. Ini berbahaya bagi demokrasi lokal,” kata Dedy.
Skandal ini menjadi ujian nyata bagi PBB, baik di tingkat daerah maupun nasional. Apakah partai akan bersikap tegas demi menjaga marwah dan kepercayaan publik, atau justru memilih jalan aman dengan membiarkan kasus ini perlahan tenggelam oleh waktu.
Satu hal yang pasti, peristiwa ini telah membuka tabir gelap bahwa jargon moral dan simbol agama tidak otomatis menjamin perilaku kader di lapangan. Dan bagi publik Pamekasan, skandal ini meninggalkan satu pesan pahit: kehormatan partai bisa runtuh bukan oleh lawan politik, melainkan oleh kadernya sendiri.
Penulis : Red
Editor : R IE Q








