Oleh: Mabruroh
OPINI, Newsline.id – Keberadaan Sumber Omben di Sampang bukan sekadar pusat pemenuhan air bersih, melainkan warisan peradaban yang kaya akan nilai spiritual dan tradisi lokal. Berawal dari wilayah yang dahulunya mengalami kesulitan air bersih hingga para ulama setempat bermunajat melalui salat Istisqa, penemuan mata air ini memiliki nilai sejarah dan keajaiban tersendiri bagi masyarakat Desa Omben, Kecamatan Omben, Kabupaten Sampang.
Kisah berlanjut saat tokoh legendaris Joko Tole beserta istrinya sedang dalam perjalanan dari Majapahit menuju Sumenep. Ketika melintasi wilayah tersebut, sang istri yang sedang berhalangan (haid) hendak bersuci dan memohon air kepada warga lokal. Karena keterbatasan pasokan air saat itu, warga hanya sanggup memberikan satu gayung.
Melihat hal tersebut, Joko Tole lantas menancapkan tongkat pusakanya yang bernama Bulu Gading sebanyak tiga kali ke atas batu. Seketika, dari celah batu tersebut terpancar air yang sangat deras. Sambil menunggu istrinya bersuci di aliran air tersebut, Joko Tole duduk beristirahat di bawah sebuah pohon yang kemudian dinamai Pohon Khasambi Lunggu (tempat menunggu).
Pancaran air legendaris itulah yang hingga kini terus mengalir tiada henti dan menjadi sumber mata air utama masyarakat Omben dan sekitarnya.
Sangat disayangkan jika potensi besar ini hanya dibiarkan sebatas pemenuhan kebutuhan domestik dan irigasi harian warga belaka. Tempat yang dulunya sempat dikembangkan sebagai objek wisata lokal ini perlu kembali mendapatkan perhatian dan revitalisasi.
Langkah dan harapan Perangkat Desa Omben yang dipublikasikan oleh Posko KKN 01 merupakan dorongan yang tepat. Penataan kembali kawasan ini tidak boleh dipandang sebagai proyek fisik semata, melainkan upaya strategis untuk memperkuat perekonomian desa, menjaga kelestarian lingkungan, sekaligus melestarikan warisan sejarah dan budaya luhur masyarakat Madura.
Penulis : Red
Editor : MTAB








