SUMENEP, Newsline.id – Perjalanan cinta seorang remaja bernama Imam Wahyudi mendadak berubah menjadi rangkaian persoalan hukum yang rumit. Pemuda asal Kabupaten Sumenep itu kini mendekam di tahanan, meski keluarganya bersikukuh bahwa Imam justru merupakan korban dalam dua kejadian berbeda: tuduhan asusila dan dugaan penganiayaan.
Keluarga Imam mengungkapkan bahwa sebelum kasus ini mencuat, hubungan Imam dengan kekasihnya, L, berjalan harmonis dan tidak menunjukkan adanya masalah. Mereka bahkan menunjukkan sejumlah bukti percakapan yang menurut keluarga memperlihatkan bahwa hubungan itu berlangsung saling menyukai.
Dalam percakapan yang ditunjukkan keluarga, L kerap memanggil Imam dengan sebutan mesra, mengirim foto pribadi, dan berulang kali mengutarakan kerinduan. Beberapa pesan bahkan terkesan menyiratkan bahwa hubungan mereka tidak dipermasalahkan oleh keluarga L.
Salah satu pesan yang ditunjukkan berbunyi: “Saya cuma mau sama Imam. Izinkan saya kembali sama Imam.”
Keluarga Imam menilai pesan-pesan itu cukup untuk membantah dugaan adanya unsur paksaan dalam hubungan mereka.
Yang membuat keluarga semakin heran, laporan dugaan asusila baru muncul setelah Imam lebih dulu menjadi korban dugaan pemukulan.
Alimudin, kakek Imam, mengaku syok ketika mendapati kondisi cucunya yang penuh lebam saat menjenguknya di Polres Sumenep pada 23 Juni 2025. Ia melihat telinga kiri Imam mengeluarkan darah, sedangkan tubuhnya tampak memar di beberapa bagian.
“Waktu saya lihat, kondisinya bukan seperti orang yang baru ditangkap, tapi seperti habis dianiaya,” ujar Alimudin.
Imam kemudian bercerita bahwa ia diserang pada Minggu malam (22/6) ketika sedang makan di sebuah warung lalapan di kawasan Kolor. Seorang pria berinisial Z disebut datang dan langsung mencekik serta menamparnya. Imam kemudian dibawa ke rumah R, yang menjadi terlapor kedua, dan kembali dipukuli.
Kisah Imam kian memicu perhatian publik setelah muncul dugaan keterlibatan seorang kepala desa berinisial B. Imam mengaku bahwa B turut menganiayanya dengan menendang perut bagian bawah dan telinganya.
“Kami kaget ketika Imam bilang ada kepala desa yang ikut memukul. Apa pantas pejabat melakukan kekerasan seperti itu?” kata Alimudin.
Keluarga menilai dugaan keterlibatan pejabat desa tersebut harus menjadi perhatian khusus penyidik agar kasus ini tidak menjadi kabur akibat ketimpangan status sosial.
Keluarga mempertanyakan alasan Imam yang kini justru menjadi pihak ditahan, sementara laporan dugaan penganiayaan terhadapnya belum menunjukkan perkembangan berarti.
“Kami ingin penyidik bekerja jujur dan profesional. Imam ini korban, tetapi justru dia yang ditahan lebih dulu. Ada apa?” kata keluarga.
Mereka berharap polisi memproses seluruh laporan secara seimbang, tanpa tebang pilih dan tanpa tekanan dari pihak mana pun.
Kasus Imam Wahyudi menimbulkan tanya besar di kalangan warga. Apakah tuduhan asusila berdiri sendiri sebagai perkara hukum, atau justru berkaitan dengan konflik hubungan asmara yang tidak mendapatkan restu? Apakah dugaan penganiayaan merupakan bentuk intimidasi atau reaksi emosional pihak tertentu?
Hingga kini, keluarga belum mendapatkan penjelasan yang memuaskan. Mereka menilai fakta-fakta penting justru belum diungkap secara terang.
“Buka semua kebenaran, jangan ada yang ditutup-tutupi,” pinta keluarga.
Di tengah sorotan publik yang semakin besar, masyarakat menunggu langkah penyidik untuk memastikan prosesnya berjalan transparan, memberikan perlindungan bagi korban, dan menjamin setiap pihak mendapat perlakuan hukum yang sama di mata negara.
Penulis : T2
Editor : R IE Q








