SUMENEP, Newsline.id — Kondisi memprihatinkan dialami warga Dusun Montorna, Desa Montorna, Kecamatan Pasongsongan, Kabupaten Sumenep.
Akses jalan utama yang rusak parah dan tak dapat dilalui kendaraan memaksa keluarga dan kerabat memikul seorang warga yang sakit sejauh kurang lebih 1,5 kilometer demi mendapatkan pengobatan.
Peristiwa tersebut terjadi pada Sabtu (3/1/2026) dan dibenarkan oleh Ahmad Ilyas, warga setempat. Ia menuturkan, jalan penghubung Dusun Tanggulun menuju Dusun Montorna sudah lama tidak bisa dilalui, baik kendaraan roda dua maupun roda empat.
“Itu kejadian kemarin, Mas. Orang sakit itu terpaksa dipikul karena jalannya memang tidak bisa dilewati mobil. Jadi keluarga dan sanak saudaranya memikul agar bisa berobat,” ujar Ahmad Ilyas, Minggu (4/1/2026).
Menurut Ilyas, jalan tersebut merupakan akses utama warga untuk berbagai aktivitas vital, mulai dari kegiatan ekonomi, pendidikan, hingga layanan kesehatan. Namun sejak 2020 hingga saat ini, khusus Dusun Montorna, jalan tersebut belum tersentuh perbaikan dari pemerintah desa.
“Perbaikan terakhir itu tahun 2018 pakai Dana Desa. Setelah itu tidak ada lagi. Tahun 2021 sempat ada perbaikan, tapi itu murni swadaya masyarakat,” ungkapnya.
Ia menambahkan, pemerintah desa sempat menjanjikan akan membantu perbaikan jalan melalui swadaya masyarakat. Namun janji tersebut, kata Ilyas, hingga kini tidak pernah terealisasi.
“Kepala desa janji mau nyumbang, tapi itu cuma janji. Sampai sekarang tidak ada realisasinya sama sekali,” tegasnya.
Akibat kerusakan jalan yang kian parah, warga terpaksa memutar melalui jalur alternatif di dalam desa dengan jarak tempuh yang lebih jauh. Ironisnya, jalur tersebut kini juga mengalami kerusakan dan sulit dilalui, bahkan oleh kendaraan roda dua.
“Sekarang motor saja susah lewat, apalagi mobil. Warga Montorna benar-benar kesulitan,” katanya.
Lebih jauh, Ilyas menyebut warga berada dalam posisi serba salah. Saat menyampaikan keluhan, mereka kerap dicap sebagai warga yang cerewet. Namun ketika memilih diam, pemerintah desa dinilai abai terhadap kondisi yang dialami masyarakat.
“Kalau warga protes dibilang cerewet, kalau diam pemerintah desa seenaknya saja. Repot jadi warga Montorna,” keluhnya.
Ia berharap pemerintah desa segera membuka mata dan menunjukkan kepedulian terhadap kondisi infrastruktur yang berdampak langsung pada keselamatan dan kesehatan warga. Menurutnya, peristiwa pemikulan orang sakit seharusnya menjadi peringatan serius bagi para pemangku kebijakan di tingkat desa.
“Saya dari dulu tidak pernah mempermasalahkan jalan. Tapi kemarin saya benar-benar tidak tega melihat orang sakit ditandu seperti itu, sementara pemerintah desa seakan tidak peduli dan hanya duduk manis di balai desa,” pungkasnya.
Penulis : Fwd
Editor : R IE Q








