PAMEKASAN, Newsline.id – Aroma pembiaran terhadap peredaran rokok ilegal di wilayah hukum Bea Cukai (BC) Madura semakin menyengat. Kali ini, giliran merek “Avatar Masterclass” yang dikabarkan milik H. Munaji kian merajalela di Kabupaten Pamekasan, Jawa Timur. Mobil pick-up berisi penuh kardus bertuliskan merek tersebut beredar luas di media sosial, seolah menjadi bukti nyata lemahnya pengawasan aparat.
Foto yang diterima redaksi memperlihatkan satu unit mobil Daihatsu Grand Max bermuatan penuh karton berlabel Avatar Masterclass 20 Class Cigarettes. Mobil tersebut diduga digunakan untuk mengirimkan produk rokok tanpa pita cukai ke sejumlah toko dan pengecer di wilayah Pamekasan dan sekitarnya.
“Setiap malam keluar mobil boks dan pick-up dari gudangnya. Tidak pernah ada razia, padahal warga semua tahu itu rokok tanpa pita cukai,” ungkap salah satu warga Desa Larangan Luar yang enggan disebut namanya, jumat (10/10/2025).
Menurut sumber lain, pabrik rumahan yang diduga milik H. Munaji tersebut telah lama beroperasi dan memiliki jaringan distribusi kuat hingga ke wilayah Sumenep dan Sampang. Bahkan, beberapa pedagang kecil mengaku mendapat “jaminan aman” selama menjual rokok tersebut.
“Katanya orang Bea Cukai juga sudah tahu, tapi memang tidak ada tindakan. Mungkin karena sudah ‘berdamai’,” ujar seorang pengecer yang ditemui di kawasan Kota Pamekasan.
Kritik publik terhadap Bea Cukai Madura yang kini dipimpin Novian Dermawan semakin tajam. Institusi yang seharusnya menjadi garda terdepan dalam pemberantasan rokok ilegal justru dinilai hanya berani menindak pedagang kecil di warung kelontong.
Sementara para bandar besar yang memiliki modal besar justru terkesan “dipelihara”.
“Kalau ada warung kecil jual rokok tanpa pita, langsung disita dan dipublikasikan. Tapi pabrik besar seperti milik H. Munaji ini dibiarkan beroperasi bertahun-tahun. Ini lucu dan memalukan,” tegas aktivis di Pamekasan, R. Firmansyah.
Ia menilai, ketimpangan penegakan hukum ini mencoreng wajah instansi Bea Cukai dan menimbulkan kecurigaan publik atas adanya main mata antara oknum aparat dan pengusaha rokok ilegal.
“Rakyat bukan buta. Kami tahu siapa yang bermain di balik peredaran rokok ilegal di Madura. Jangan pura-pura tidak tahu,” sindirnya.
Di Madura, Avatar Masterclass kini menjadi salah satu merek paling banyak ditemukan di pasaran, bersaing dengan merek-merek ilegal lain seperti HMIN, Angker, dan Alphard.
Masyarakat menilai, pimpinan Bea Cukai Madura seakan kehilangan wibawa dan arah penegakan hukum di wilayahnya.
“Kalau sudah begini, patut dipertanyakan: masih adakah marwah Bea Cukai Madura?” kata seorang tokoh masyarakat Pamekasan dengan nada geram.
Ia menegaskan, apabila tidak ada tindakan nyata terhadap jaringan rokok ilegal milik H. Munaji dan para bandar lainnya, maka masyarakat berhak menilai bahwa Bea Cukai bukan lagi penegak hukum, melainkan bagian dari jaringan bisnis kotor itu sendiri.
“Sudah waktunya pemerintah pusat turun tangan. Jangan tunggu Madura jadi surga bagi rokok ilegal,” tutupnya.








