Sampang Kaya Migas tapi Tetap Tertinggal, KAHMI Soroti Ketimpangan dan Ajak Masyarakat Melek Energi

Sunday, 27 July 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

SAMPANG, Newsline.id – Di tengah sorotan nasional terhadap ketimpangan daerah penghasil energi, Majelis Daerah Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (MD KAHMI) Sampang menggelar sarasehan bertema “Daerah Tertinggal di Tengah Pusaran Minyak dan Gas (Migas)” pada Jumat (25/7/2025). Kegiatan ini menyuguhkan diskusi terbuka mengenai potensi besar migas Sampang yang belum berdampak signifikan terhadap pembangunan daerah.

Presidium MD KAHMI Sampang, Samsul Muarif, dalam pemaparannya menilai, selama ini masyarakat dibuat “asing” terhadap isu-isu energi, padahal sektor ini menyimpan peluang strategis bagi kesejahteraan warga.

“Isu Migas ini terlalu lama dimonopoli oleh elit. Masyarakat Sampang sebagai pemilik tanah dan lautnya justru tidak tahu apa-apa soal bagaimana migas itu dikelola. Ini yang harus kita ubah,” ujar Samsul.

Menurutnya, inisiatif sarasehan ini lahir dari keprihatinan mendalam atas ironi yang selama ini terjadi. Di satu sisi, Sampang adalah daerah kaya minyak dan gas; di sisi lain, tetap menyandang status sebagai daerah tertinggal di Jawa Timur.

Baca Juga  AWDI Sumenep Siapkan Lompatan Besar, Gelar Raker Nasional Bahas Masa Depan Jurnalisme Daerah

“Kita bicara realitas: data menunjukkan Sampang adalah penyumbang migas terbesar di Jawa Timur. Tapi lihatlah indeks pembangunan manusia (IPM) dan angka kemiskinan kita. Kita masih di urutan bawah,” tambahnya.

Sarasehan ini dihadiri oleh berbagai elemen masyarakat, mulai dari akademisi, aktivis, hingga pemerintah daerah. Dalam kesempatan itu, Sekretaris Daerah (Sekda) Sampang, Yuliadi Setiyawan, turut memberikan pandangan.

Ia menyambut baik forum semacam ini, yang menurutnya menjadi media refleksi sekaligus edukasi publik.

“Kita tidak bisa menutup mata bahwa tata kelola migas sangat kompleks, apalagi sebagian besar wilayah produksinya berada di offshore, lebih dari 4 mil laut dari garis pantai. Secara aturan, pendapatan dari situ memang masuk ke provinsi dan pusat,” jelas Yuliadi.

Namun demikian, Yuliadi menggarisbawahi bahwa keterlibatan masyarakat sipil sangat penting untuk mendorong formulasi kebijakan yang lebih adil bagi daerah penghasil.

“Kalau masyarakatnya paham, punya suara, maka kita bisa menekan pusat agar memberikan perlakuan khusus. Misalnya melalui Dana Bagi Hasil (DBH) yang lebih proporsional, atau skema CSR yang transparan,” ungkapnya.

Baca Juga  Sumenep Mulai Bidik Hilirisasi Kelapa, Ribuan Bibit Unggul Disiapkan untuk Perkuat Ekonomi Desa

Dalam forum tersebut juga mengemuka dorongan agar pemerintah daerah Sampang lebih agresif dalam menegosiasikan hak-hak daerah, termasuk mendesak evaluasi regulasi yang tidak berpihak pada keadilan fiskal.

KAHMI menilai bahwa saat ini dibutuhkan narasi baru dalam pengelolaan sumber daya alam. Narasi yang melibatkan warga, membumi, dan berorientasi pada kesejahteraan. Bukan lagi narasi elitis yang penuh angka dan istilah teknokratis.

“Migas ini bukan cuma soal lifting dan rig. Ini soal dapur masyarakat, soal jalan rusak, soal anak yang tak bisa sekolah. Kita ingin bicarakan itu semua di ruang publik,” tegas Samsul Muarif.

Sarasehan ditutup dengan rencana tindak lanjut berupa pembentukan forum advokasi migas berbasis masyarakat sipil di Sampang. Forum ini nantinya akan menjadi simpul gerakan untuk mendorong akuntabilitas pengelolaan migas serta memantau realisasi kontribusinya terhadap pembangunan.

Berita Terkait

Sembilan Prajurit Kodim 0827/Sumenep Dilepas ke Satuan Baru, Kasdim: Terus Jaga Nama Baik TNI AD
Yonif TP 931/KJ Bekali Prajurit Keterampilan Beternak Ayam Petelur untuk Dukung Ketahanan Pangan
Pimpinan Buruk Melahirkan Mahasiswa Buruk, Dari Kasus Ijazah Hingga Pemalsuan Tanda Tangan Pemira UNIBA 
Lansia Asal Lobuk Ditemukan Meninggal di Pinggir Jalan Saat Hendak ke Ladang
Polemik Pengambilan Ijazah Belum Terjawab, Dayat Mahjong Minta Ahsanul Qasasi Selamatkan Nama Baik UNIBA
Pemira UNIBA Madura Berujung Laporan Polisi, Dugaan Tanda Tangan Fiktif Diselidiki Satreskrim
Drs. Kamalil Irsyad Nahkodai PKB Sumenep Periode 2026–2031, Usung Politik Pelayanan dan Kaderisasi Muda
Komisi III DPRD Sumenep Soroti Dugaan Tender Bermasalah, PBJ dan PUTR Akan Dipanggil Pekan 
Berita ini 14 kali dibaca

Berita Terkait

Friday, 12 June 2026 - 16:22

Sembilan Prajurit Kodim 0827/Sumenep Dilepas ke Satuan Baru, Kasdim: Terus Jaga Nama Baik TNI AD

Friday, 12 June 2026 - 15:59

Yonif TP 931/KJ Bekali Prajurit Keterampilan Beternak Ayam Petelur untuk Dukung Ketahanan Pangan

Friday, 12 June 2026 - 15:23

Pimpinan Buruk Melahirkan Mahasiswa Buruk, Dari Kasus Ijazah Hingga Pemalsuan Tanda Tangan Pemira UNIBA 

Friday, 12 June 2026 - 06:15

Polemik Pengambilan Ijazah Belum Terjawab, Dayat Mahjong Minta Ahsanul Qasasi Selamatkan Nama Baik UNIBA

Thursday, 11 June 2026 - 18:30

Pemira UNIBA Madura Berujung Laporan Polisi, Dugaan Tanda Tangan Fiktif Diselidiki Satreskrim

Berita Terbaru

OPINI

Rektor atau Maling Kelas Kakap?

Saturday, 13 Jun 2026 - 00:11

OPINI

Penjahat Bernama Prabowo

Friday, 12 Jun 2026 - 16:59