PAMEKASAN, Newsline.id – Ketika seragam cokelat bukan lagi simbol penegakan hukum, tapi justru jadi jubah pelindung bisnis keluarga, maka rakyat boleh bertanya: siapa sebenarnya yang berkuasa di Madura negara atau mafia rokok ilegal?
Nama Johan, oknum anggota Polres Sampang, kini beredar luas di tengah riuhnya isu rokok ilegal merek 54ryaku. Bukan karena prestasi, melainkan karena disebut-sebut sebagai “penjaga keamanan” alias beking bisnis sang adik, Aldi, yang diduga menjadi dalang di balik peredaran rokok bodong itu.
Publik mulai bingung membedakan antara penegak hukum dan pelindung pelaku. Ketika warga kecil tertangkap menjual beberapa bungkus rokok ilegal, mereka langsung digelandang, dipotret, dan dijadikan contoh. Tapi ketika yang main orang dekat aparat, tiba-tiba semua diam bahkan suara jangkrik lebih keras dari suara Bea Cukai.
“Lucu ya, yang katanya penegak hukum malah jaga bisnis ilegal. Kalau mau jujur, banyak anggota yang tahu tapi pura-pura nggak dengar. Johan itu bukan rahasia lagi, semua di Pamekasan tahu dia beking rokok adiknya,” ujar salah seorang warga yang meminta identitasnya dirahasiakan.
Bea Cukai Madura, di bawah pimpinan Novian Dermawan, tampaknya sedang alergi dengan yang namanya keberanian. Mereka gagah ketika menyisir warung kecil dan toko kelontong, tapi mendadak amnesia kalau disuruh menindak gudang rokok ilegal yang dibekingi oknum polisi.
Entah mengapa setiap laporan soal rokok 54ryaku selalu menguap di meja birokrasi. Seolah-olah ada tangan tak terlihat yang menahan agar kasus ini tak naik permukaan.
“Mungkin mereka takut kehilangan jabatan, atau jangan-jangan sudah kebagian asap manis dari rokok itu,” kata M. Zainul, aktivis.
Ironinya, rakyat kecil yang hanya menjual rokok eceran langsung ditindak, sementara truk-truk besar pengangkut rokok ilegal melenggang santai di jalan raya Pamekasan bahkan konon dikawal.
“Lihat saja, kalau rokok itu punya rakyat biasa, sudah habis digilas. Tapi karena di belakangnya ada seragam, semua mulut langsung terkunci,” ungkap salah satu sumber.
Jika benar dugaan itu, maka Johan bukan sekadar oknum. Ia simbol dari penyakit lama: aparat yang lupa sumpah, tapi ingat keluarga. Polisi yang katanya pelindung masyarakat malah jadi penjaga bisnis ilegal.
Kasus ini menimbulkan pertanyaan besar: di mana negara? Apakah hukum kini tunduk pada hubungan darah? Apakah Kementerian Keuangan dan Bea Cukai hanya berani menegakkan peraturan pada rakyat kecil, tapi ciut nyali ketika dihadapkan pada oknum berseragam?
Publik menunggu tindakan nyata. Karena jika tidak, maka kepercayaan terhadap institusi penegak hukum akan terkubur di bawah tumpukan rokok tanpa pita cukai itu.
“Jangan heran kalau rakyat mulai mencibir. Di Madura, hukum bisa kalah sama keluarga polisi. Johan ini seperti bayangan di balik seragam, memanfaatkan jabatan untuk melindungi bisnis gelap adiknya. Kalau negara diam, berarti negara ikut berdagang,” ucap Zainul dengan nada sinis.
Kini, bola panas ada di tangan Menteri Keuangan Purabaya. Apakah ia berani menunjukkan bahwa negara masih punya wibawa, atau memilih berdiam dan menonton Bea Cukai Madura menjadi tontonan komedi gelap?
Rakyat menunggu bukan sekadar pernyataan, tapi tindakan. Karena kalau Menteri Keuangan hanya bisa bicara soal target penerimaan negara, sementara aparat di lapangan menutup mata terhadap kebocoran miliaran rupiah dari cukai rokok ilegal, itu sama saja seperti menambal ban bocor dengan daun pisang.








