SUMENEP, Newsline.id – Gelaran Madura Culture Fest #4 tidak hanya menjadi ruang untuk menampilkan kekayaan budaya Madura. Sejumlah perangkat daerah Kabupaten Sumenep turut memanfaatkan momentum tersebut untuk menyampaikan pesan dan gagasan melalui konsep stan yang mereka hadirkan.
Salah satunya adalah Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Sumenep. Stan Bappeda tampil dengan mengusung nuansa Keraton dan Pendopo Agung Songennep yang sarat dengan nilai sejarah dan filosofi lokal.
Konsep tersebut dipilih bukan semata untuk mempercantik tampilan stan. Bappeda ingin menunjukkan bahwa pembangunan daerah memiliki hubungan erat dengan identitas, sejarah, karakter masyarakat, serta potensi lokal yang dimiliki Sumenep.
Kepala Bappeda Sumenep, Dr. Ir. Arif Firmanto, S.TP., M.Si., menjelaskan bahwa pendopo memiliki makna filosofis sebagai ruang terbuka yang dapat menjadi tempat masyarakat bertemu, bermusyawarah, menyampaikan aspirasi, dan mencari kesepakatan bersama.
“Pendopo secara filosofis merupakan ruang yang terbuka, tempat berkumpul, bermusyawarah, menerima aspirasi, dan membangun kesepakatan,” kata Arif.
Menurutnya, filosofi tersebut sejalan dengan fungsi Bappeda dalam menyusun dan mengoordinasikan perencanaan pembangunan daerah.
Perencanaan pembangunan, kata dia, tidak cukup hanya berangkat dari angka dan data. Proses tersebut juga membutuhkan partisipasi masyarakat agar kebijakan yang dirumuskan benar-benar mampu menjawab kebutuhan daerah.
Pemilihan unsur Keraton Sumenep dalam desain stan juga menjadi bagian penting dari pesan yang ingin disampaikan Bappeda.
Keraton dipandang sebagai representasi sejarah, tata nilai, kepemimpinan, serta perjalanan panjang masyarakat Sumenep. Nilai-nilai tersebut kemudian dikaitkan dengan bagaimana pembangunan daerah harus memiliki arah, keteraturan, kesinambungan, dan tujuan yang jelas.
Dua simbol tersebut kemudian dipadukan dengan keberadaan Bappeda sebagai institusi yang mempertemukan berbagai kepentingan dalam proses perencanaan pembangunan, mulai dari data, gagasan, aspirasi masyarakat hingga kebijakan pemerintah.
“Melalui konsep tersebut, stand kami diharapkan tidak hanya menjadi ruang penyajian informasi, tetapi juga menjadi ruang representasi sebagai rumah perencanaan pembangunan daerah,” ujar Arif.
Ia menambahkan, ruang tersebut diharapkan dapat menggambarkan proses mempertemukan gagasan, aspirasi, data dan arah kebijakan untuk mendorong Sumenep menjadi daerah yang semakin unggul, mandiri dan sejahtera.
Ada pula pesan khusus yang ingin disampaikan melalui konsep pendopo. Dalam pemaknaan lokal, pendopo Sumenep dikenal dengan istilah mandapa, yang berkaitan dengan kata mandap yang berarti rendah.
Filosofi tersebut dapat dimaknai sebagai gambaran kepemimpinan yang mengedepankan kerendahan hati, kedekatan serta kebersamaan dengan masyarakat.
Dalam konteks pembangunan modern, nilai tersebut diterjemahkan sebagai pentingnya pemerintah untuk tetap membuka ruang komunikasi dengan masyarakat.
Pendopo juga memiliki sejarah sebagai ruang pertemuan antara pihak keraton dengan masyarakat. Secara arsitektural, bangunan Pendopo Agung Sumenep memiliki atap limasan sinom dan ditopang oleh tiang utama yang dikenal sebagai soko guru.
Bagi Bappeda, nilai historis tersebut menjadi relevan dengan semangat pembangunan yang membutuhkan komunikasi dan kolaborasi.
Dengan demikian, stan Bappeda dalam Madura Culture Fest #4 seolah ingin menyampaikan bahwa perencanaan masa depan tidak harus memutus hubungan dengan masa lalu.
Sebaliknya, sejarah dan kebudayaan dapat menjadi sumber nilai sekaligus pijakan dalam menentukan arah pembangunan.
Melalui konsep tersebut, Bappeda menempatkan budaya bukan hanya sebagai warisan yang ditampilkan dalam festival, melainkan sebagai bagian dari identitas yang dapat memberi warna terhadap kebijakan dan pembangunan Kabupaten Sumenep.
Penulis : Red
Editor : MTAB








